TAHUN BARU HIJRIAH TONGGAK PEMERINTAHAN UMAR BIN AL KHATTAB

TAHUN BARU HIJRIAH TONGGAK PEMERINTAHAN

UMAR BIN AL KHATTAB

Drs. KH. Cholil Dahlan

(Wakil Rais Syuriah PCNU Jombang, Ketua MUI Jombang)

Makna Ibadah Pada Tahun Hijri dan Masehi

Maha suci Allah Ta’ala dengan segala CiptaanNya. Tiada ciptaan yang tanpa manfaat, bahkan setiap apapun kecilnya ciptaan selalu memberi tanda – tanda keagungan, ketelitian dan keelokanNya. Sebab itulah kita harus tafakkur memahami ciptaan, asma – asma dan sifatNya agar akidah kita maksimal pada tingkat tertinggi saat menghadap kepada Allah Ta’ala.

Menurut Imam Syarqawi dalam syarah Kitab Al Hikam karya Ibnu Athaillah, tingkat keyakinan seseorang terhadap keberadaan Allah Ta’ala .adakalanya dalam tahap ilmu Al Yaqin, Tingkat Ain Al Yaqin dan yang tertinggi adalah Haqqulyaqin. Pada tingkat Ilmu Al Yaqin, seseorang menekadkan adanya Allah Ta’ala berdasar Ilmu yang dipelajari, baik ilmu lahir seperti belajar Ilmu Akidah, lalu seseorang tahu bahwa Allah Ta’ala itu adalah Tuhan sebenar – benarnya Tuhan dan satu – satunya Tuhan. Pada tingkat Ainul Yaqin, seseorang merenung tentang Alam Jagad raya dan Alam dalam dirinya, kemudian lisan berdzikir. Pada tingkat ini kalau seseorang mendapat karunia, maka ia akan merasakan keberadaan Allah Ta’ala, dalam tidur maupun jaganya, dalam diam atau bicaranya, dalam tenang maupun dalam gejolaknya, dan seterusnya . Sedang pada tingkat Haqqul Yaqin, seseorang akan istiqomah dalam menjalani Ibadah maupun muamalahnya.Sebab keberadaan Allah Ta’ala telah mewarnai akal dan hatinya, bahkan peredaran darah dalam tubuhnya telah dikendalikan oleh kekuatan Dzikir atau Elingnya terhadap Allah Ta’ala.

Nah, makna ibadah, baik menghormati Tahun Baru Hijriah 1430 dan juga Tahun Baru Masehi 2009 adalah sama. Sebab keduanya bersumber dari pemikiran manusia, dalam upaya membuat batasan waktu agar penyelenggaraan hidup lebih mudah diatur, seperti halnya hasil pemikiran manusia yang lain, adalah juga untuk mempermudah menjalani kehidupan. Penghormatan atas tahun Baru Hijriah dan Tahun Baru Masihiah bertujuan memanfaatkan waktu yang dicipta oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam surat At Taubah, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36).

Firman Allah di atas, semoga dapat membawa pemahaman hal – hal sebagai berikut :

Pertama, prinsipnya, Allah mencipta waktu yang dibagi – bagi secara tahunan.Dalam satu tahun terdiri atas dua belas bulan, dan dalam bulan tertentu, yaitu sejumlah empat bulan, peruntukannya telah ditentukan pula.

Pokok dasar ini kemudian difikir oleh manusia melalui tahapan berfikir, dan ditemukanlah bahwa perhitungan Allah tersebut ditandai dengan perhitungan Poros matahari atau solar yang dinamai masehi atau “ Tahun Baru Syamsiah “, dan Perhitungan Poros Bulan atau lunar yang dinamai “ Tahun Qomariah “dan Tahun Hijriah.

Kedua, ayat tersebut ditutup dengan :

Mengandung makna bahwa pembagian waktu, baik menurut perhitungan Matahari atau perhitungan Bulan, agar seseorang cermat memperhitungkan waktu dan tidak menyia – nyiakan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu untuk meningkatkan Taqwa kepada Allah Ta’ala. Karena itulah Allah Ta’ala menentukan bentuk – bentuk Ibadah, dalam penyelenggaraannya, kadang berpedoman putaran Bumi dan Bulan atas Matahari, seperti menentukan waktu sholat lima waktu. Tetapi dalam momentum ibadah Puasa misalnya, Allah menentukan mulainya bulan Ramadlan justru menggunakan pedoman putaran Bulan atas bumi alias Qamariah.

Jadi, penghormatan Ibadah Islam berkait langsung dengan fenomena Alam.Penghormatan waktu untuk tidak disia – siakan adalah ibadah, menjaga fenomena Alam dengan cara menjaga Ekosistem Alam adalah juga ibadah dalam bentuk lain. Dan ini ada Nilainya, ada pula pahalanya.

Perubahan Waktu Mengandung Makna

Pada umumnya, setiap pergantian Tahun, kita hingar bingar menyelenggarakan kegiatan – kegiatan untuk memberi harapan baru. Ironisnya, justru kita tidak menyadari, bahwa sesungguhnya, setiap saat, waktu terus berjalan tanpa bisa kita hentikan dan kita kendalikan. Karena yang Maha Tahu kapan berhentinya waktu hanya Allah Ta’ala. Ibnu Atha’illah as Sakandary berkata :

“Hak – hak kita dalam waktu mungkin saja diganti di lain waktu. Tapi hak – hak waktu atas kita, tidak mungkin diganti di lain waktu”.

Pada tanggal dua Ramadlan misalnya, seseorang karena kemurahan hukum syariah diperkenankan untuk tidak berpuasa, tetapi dapat diganti di bulan syawalnya. Tetapi setiap waktu memiliki hak terhadap kita, misalnya usia. Usia telah ditentukan jumlah tahunnya, bulannya, jamnya bahkan detiknya, Apabila satu detik saja lewat dari amal shaleh, maka tidak bisa diganti di luar perhitungan usia yang telah ditentukan.Inilah hak waktu terhadap manusia, setiap saat harus ingat kepada Allah Ta’ala, dengan dzikir.Tanpa dzikir, musnahlah waktu, dan itu berarti kesempatan untuk menjadi manusia abdi Tuhan hilang. Manusia dicipta untuk ibadah, tanpa ibadah, maka tugas kemanusiaannya tidak tertunaikan, Naudzubillah. Menurut Imam Ibn Atha’illah

Hak waktu atas manusia, apabila ditinjau kepentingannya terhadap Allah Ta’ala ada empat :

Pertama, setiap saat manusia tidak bisa lepas dari hal mendapat nikmat atau hal mendapat coba’an.

Kedua, setiap saat manusia tidak bisa lepas dari hal taat kepada Allah atau hal maksiat.Hak waktu kepada manusia adalah, setiap nikmat datang, manusia dituntut memuji Allah dan syukur. Setiap cobaan datang, manusia dituntut sabar dan rela hati . Setiap melakukan taat kepada Allah Ta’ala, sang waktu menuntut hadirnya hati atau khusyu’ menyaksikan keagungan sifat dan Asma Allah. Dan setiap dicoba melakukan maksiat, sang waktu menuntut kita memperbanyak Istighfar dan Taubat. Jadi sesungguhnya setiap waktu berjalan dan berganti, seyogyanya Riyadlah dan Mujahadah kita lakukan, berburu dengan waktu, terus – menerus dan bersunggguh – sungguh.

Pergantian Waktu Berarti Perbaikan Diri

Tersebut dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat Abi Hurairah R.A bahwasannya Rasulullah. bersabda :

“ Bersegeralah kamu Sekalian untuk melakukan amal – amal shaleh, karena akan terjadi sesuatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tetapi pada waktu sore ia kafir. Ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan Dunia ( Riwayat Muslim).

Nah, pembaca budiman Rasulillah dalam sabdanya ini memperingatkan :

Pertama, Cepat – cepatlah berbuat baik, sebab waktu akan terus melaju cepat per detik meski apapun terjadi. Seiring lajunya waktu berjalan akan terjadi perubahan – perubahan, termasuk niat baik, bisa saja berubah cepat menuju niat yang kurang baik. Untuk itu setiap terbersit niat dalam hati, cepatlah melaksanakan niat baik tersebut agar tidak tertunda – tertunda yang berarti menyiakan waktu.

Kedua, Perubahan haruslah menuju yang lebih bagus Amalnya, baik secara mikro untuk diri atau makro untuk umat. Sebab ada syair yang menjelaskan dawuh shahabat Ali Bin Abi Thalib R.A.

“ Sisa – sisa usia, tidak akan ada nilainya, apabila tidak setiap pagi dihitung – hitung semakin habis masanya, Seseorang akan menemukan bahwa waktu hilang musnah, Apabila amal buruk tidak ditindas oleh Amal terpuji”.

Hari – hari Hisab harus diyakini setiap saat sebelum kita bersua dengan kata hikmah” Dunia Ada Usaha Tiada Hisab, Tapi Akhirat Pasti Hisab Usaha Purna” Agar usia mempunyai makna, maka setiap saat kita harus melakukan sesuatu kebaikan, seberapapun kecilnya amal tersebut. Justru amal yang sepele, karena kecil bentuknya, terkadang malah diterima Allah Ta’ala.

Jangan Lupa Tuntunan dan Sumber Pokok

Bersegera melaksanakan niat baik adalah bagus, perubahan waktu yang disertai peningkatan amal, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif adalah lebih bagus. Tetapi kedua langkah atau hal tersebut tidak akan memiliki arti,menurut kerangka pemikiran, apabila pengerjaannya tidak dibarengi tuntunan Rasulillah,Islam atau literatur sumber hukum tertulis Al Qur’an.

Ibadah dan amal Shaleh adalah mutlak harus merujuk Al Qur’an dan Al Hadits. Rasulullah menuntut umat supaya berakidah benar dan tepat Bahwa Tiada Tuhan Melainkan Allah Dan Muhammad Adalah utusanNya.Mulai 610 Masehi saat ayat Al Qur’an Pertama diturunkan sampai perintah shalat pada tahun ke Tujuh. Dan pada saat Hijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 Masehi. Hasil Perjuangan Beliau yang luar biasa kelihatan nyata. Yang ditandai antara lain :

Pertama,Rasulullah. Dengan pemimpin Madinah menyelenggarakan satu bentuk Pemerintahan Baru “ Madinah” yang terdiri dari umat Islam, Nasrani, Yahudi dan Umat Tradisional Arab atas dasar persamaan hak dan kewajiban.

Kedua, Perluasan dan percepatan Wilayah proses Islamisasi meliputi Makkah, Madinah dan sebagian wilayah Imperium Romawi dan Persia.

Dua perkembangan di atas, sebagai pilar pemikiran sahabat Umar Bin Al Khattab ketika memegang kendali pemerintahan Islam, yaitu saat beliau menjadi Khalifah ke II “ Tahun Hijriah Sebagai Tahun Pemerintahan”.

Asal Usul Kalender Hijriah


Ada yang gak hafal dengan nama-nama bulan di Kalender Masehi seperti: Januari, Februari, Maret dst, dst..?
Pasti semua hafal deh..
Klo nama-nama bulan Kalender Hijriah?
Hehehe.. saya sendiri juga gak hafal..

Oke deh.. kita obrolin bentar ya biar kita sama-sama hafal..
Kita mulai aja yuuukz…

Nama-nama Bulan pada Sistem Penanggalan/Kalender Hijriah
1. Muharram
2. Safar
3. Rabiul awal
4. Rabiul akhir
5. Jumadil awal
6. Jumadil akhir
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulkaidah
12. Dzulhijjah

Naaah, udah hafal khaaan? Hehehe..
Trus, bagaimana shi asal-usul dari kalender hijriyah tsb?
Okey, kita lanjutin lagi ngobrolnya yaaa…

Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam. Kalender Hijriyah menggunakan sistem kalender lunar (komariyah). Kalender ini berdasarkan pada hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M.

Ceritanya beginiii..
(Hehehe.. Kayak Kisah Misteri aja yaaa…)

Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad S.A.W., masyarakat Arab memakai kalender lunisolar, yaitu kalender lunar (komariah) yang disesuaikan dengan matahari (syamsiah).

Awal bulan ditandai dengan munculnya hilal. Jumlah harinya berselang-seling antara 29 dan 30, sehingga satu tahun terdiri dari 354 hari atau 11 hari lebih cepat dari kalender syamsiyah yang setahunnya 365 hari.

Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada 7 tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi’ yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzul-Hijjah.

Ternyata, tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat mengenai tahun-tahun mana saja yang mempunyai bulan nasi’. Masing-masing kabilah seenaknya menentukan tahun yang mempunyai bulan nasi’ tsb. Satu kabilah menentukan bahwa tahun tsb mempunyai 13 bulan (mempunyai bulan nasi’) sementara kabilah yang lain menentukan bahwa tahun tsb mempunyai 12 bulan.
Lebih celaka lagi jika suatu kaum memerangi kaum lainnya pada bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang) dengan alasan perang itu masih dalam bulan nasi’, belum masuk Muharram, menurut kalender mereka. Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak menimbulkan permusuhan di kalangan masyarakat Arab.

Hal inilah yang menjadi sebab turun Surat At Taubah ayat 37, yaitu:
Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah atsar melalui Abu Malik yang menceritakan, bahwa pada zaman jahiliah orang-orang menjadikan satu tahun menjadi tiga belas bulan. Maka mereka menjadikan bulan Muharam sebagai bulan Shafar, sehingga mereka menghalalkan banyak hal yang diharamkan pada bulan Muharam tersebut. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya mengundur-undur bulan haram itu adalah menambahkan kekafiran.” (Q.S. At-Taubah : 37).

Dengan turunnya wahyu Allah di atas (Q.S. At-Taubah : 36-37), Nabi Muhammad s.a.w. menetapkan bahwa kalender Islam tidak lagi bergantung kepada perjalanan matahari atau menggunakan kalender bulan (khomariyah) murni tanpa adanya penyesuaian dengan kalender matahari (syamsiyah) atau dengan menghilangkan tradisi penambahan bulan ke-13 atau bulan nasi’. Meskipun demikian, nama-nama bulan dari Muharram sampai Dzul-Hijjah tetap digunakan karena sudah populer pemakaiannya.

Penentuan Tahun Satu Hijriah
Pada masa Nabi Muhammad s.a.w., penyebutan tahun berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad s.a.w. lahir tanggal 12 Rabi’ul-Awwal Tahun Gajah (‘Am al-Fil), sebab pada tahun tersebut pasukan bergajah Raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka’bah.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. wafat tahun 632 H, kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia.

Pada tahun 638, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy’ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: “Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun.”

Khalifah Umar bin Khattab menyetujui usul gubernurnya ini.

Maka dibentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun 1 (Tahun Pertama) dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun.

Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (‘Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama (‘Am al-Bi’tsah, 610 M). Dan pada akhirnya, panitia menyepakati usulan dari Ali bin Abi Thalib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah (‘Am al-Hijrah, 622 M).

Maka, Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriah.

Demikianlah sekelumit cerita tentang Kalender Hijriah, semoga bisa menambah wawasan kita.

Doa Akhir dan Awal Tahun


Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh


**Punten teu di sunda keun.

DO’A AKHIR TAHUN DAN FADHILAHNYA

Do’a ini hendaknya dibaca tiga kali pada akhir waktu ashar tanggal 29 atau 30 bulan Dzulhijjah.

Fadhilahnya adalah barang siapa membaca do’a ini dalam waktu tersebut maka setan berkata:

“Kesusahanlah bagiku,dan sia-sia lah pekerjaanku menggoda anak Adam(manusia) pada tahun ini”.

Maka di binasakan lah dengan satu saat saja,sebab membaca do’a ini.

Dan dosa-dosanya di ampuni oleh Allah Ta’ala dalam setahun ini.

Inilah do’anya:

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Wa sallallaahu ‘ala sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa aalihi wa sahbihii wa sallam.

Allaahumma maa ‘amiltu fi haazihis-sanati mimmaa nahaitani ‘anhu fa lam atub minhu wa lam tardahuu

wa lam tansahuu wa halimta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubati wa da’autani ilattaubati minhu

ba’da jur’ati alaa ma’siyatika fa inni astagfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardaahu wa

wa’attani ‘alaihis-sawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa zal-jalaali wal ikraam,an tataqabbalahuu

minni wa laa taqta’ rajaa’i minkaa yaa kariim, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadiw wa ‘alaa

‘aalihii wa sahbihii wa sallam

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW,

beserta para keluarga dan sahabatnya.

Ya Allah,segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu,sedang

kami belum bertaubat,padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya,dan Engkau telah

mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.Karena itu ya Allah, saya mohon

ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.

Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai

dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang

Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan,semoga berkenan menerima

amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha

Pemurah.

Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad,keluarga

dan sahabatnya.

Amin yaa rabbal ‘alamin.

DO’A AWAL TAHUN DAN FADHILAHNYA

Do’a awal tahun ini hendaknya di baca tiga kali setiap tanggal 1 Muharram pada petang hari

sehabis shalat magrib.

Barangsiapa membacanya, maka Allah akan memberikan perlindungan dan pertolongannya

dari segala macam bencana dan godaan setan.

Sehingga dalam tahun itu akan membawa perubahan,kebahagiaan dan ketentraman lahir & bathin.

Allah juga mengutus dua malaikat yang selalu menyertainya, agar tidak terjerumus ke dalam

tipu daya setan dan terhindar dari fitnahnya,serta nafsu angkara murka yang dapat membawa

kepada kehancuran dirinya.

Inilah do’anya

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihi wa sahbihii wa sallam.

Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwal, wa ‘alaa fadlikal-’azimi wa juudila-mu’awwali,

wa hazaa ‘aamun jadidun qad aqbala nas’alukal ‘ismata fiihi minasy-syaitaani wa auliyaa’ihi

wa junuudihi wal’auna ‘alaa haazihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytigaala bimaa yuqarribuni

ilaika zulfa yaa zal-jalaali wal-ikraamin yaa arhamar-raahimiin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa

wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihi wa ashaabihii wa sallam

Amin yaa rabbal ‘alamin

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami

Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu

yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.

Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan

dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya.

Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak

pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami

kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan

kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarganya dan sahabatnya.

Amin yaa rabbal ‘alamin

Semoga do’a ini bermanfaat.

Mohon maaf bila ada kesalahan.

Selamat tahun baru 1431H

Semoga semuanya menjadi lebih baik di tahun yang baru ini,amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Selamat tahun baru 1 Muharram 1431 H

Daging Kurban

Tuan Guru Kediri

Foto Ku












saya cicak, berani lawan buaya.

1saya-cicak-berani-lawan-buaya