TAHUN BARU HIJRIAH TONGGAK PEMERINTAHAN
UMAR BIN AL KHATTAB
Drs. KH. Cholil Dahlan
(Wakil Rais Syuriah PCNU Jombang, Ketua MUI Jombang)
Makna Ibadah Pada Tahun Hijri dan Masehi
Maha suci Allah Ta’ala dengan segala CiptaanNya. Tiada ciptaan yang tanpa manfaat, bahkan setiap apapun kecilnya ciptaan selalu memberi tanda – tanda keagungan, ketelitian dan keelokanNya. Sebab itulah kita harus tafakkur memahami ciptaan, asma – asma dan sifatNya agar akidah kita maksimal pada tingkat tertinggi saat menghadap kepada Allah Ta’ala.
Menurut Imam Syarqawi dalam syarah Kitab Al Hikam karya Ibnu Athaillah, tingkat keyakinan seseorang terhadap keberadaan Allah Ta’ala .adakalanya dalam tahap ilmu Al Yaqin, Tingkat Ain Al Yaqin dan yang tertinggi adalah Haqqulyaqin. Pada tingkat Ilmu Al Yaqin, seseorang menekadkan adanya Allah Ta’ala berdasar Ilmu yang dipelajari, baik ilmu lahir seperti belajar Ilmu Akidah, lalu seseorang tahu bahwa Allah Ta’ala itu adalah Tuhan sebenar – benarnya Tuhan dan satu – satunya Tuhan. Pada tingkat Ainul Yaqin, seseorang merenung tentang Alam Jagad raya dan Alam dalam dirinya, kemudian lisan berdzikir. Pada tingkat ini kalau seseorang mendapat karunia, maka ia akan merasakan keberadaan Allah Ta’ala, dalam tidur maupun jaganya, dalam diam atau bicaranya, dalam tenang maupun dalam gejolaknya, dan seterusnya . Sedang pada tingkat Haqqul Yaqin, seseorang akan istiqomah dalam menjalani Ibadah maupun muamalahnya.Sebab keberadaan Allah Ta’ala telah mewarnai akal dan hatinya, bahkan peredaran darah dalam tubuhnya telah dikendalikan oleh kekuatan Dzikir atau Elingnya terhadap Allah Ta’ala.
Nah, makna ibadah, baik menghormati Tahun Baru Hijriah 1430 dan juga Tahun Baru Masehi 2009 adalah sama. Sebab keduanya bersumber dari pemikiran manusia, dalam upaya membuat batasan waktu agar penyelenggaraan hidup lebih mudah diatur, seperti halnya hasil pemikiran manusia yang lain, adalah juga untuk mempermudah menjalani kehidupan. Penghormatan atas tahun Baru Hijriah dan Tahun Baru Masihiah bertujuan memanfaatkan waktu yang dicipta oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman dalam surat At Taubah, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36).
Firman Allah di atas, semoga dapat membawa pemahaman hal – hal sebagai berikut :
Pertama, prinsipnya, Allah mencipta waktu yang dibagi – bagi secara tahunan.Dalam satu tahun terdiri atas dua belas bulan, dan dalam bulan tertentu, yaitu sejumlah empat bulan, peruntukannya telah ditentukan pula.
Pokok dasar ini kemudian difikir oleh manusia melalui tahapan berfikir, dan ditemukanlah bahwa perhitungan Allah tersebut ditandai dengan perhitungan Poros matahari atau solar yang dinamai masehi atau “ Tahun Baru Syamsiah “, dan Perhitungan Poros Bulan atau lunar yang dinamai “ Tahun Qomariah “dan Tahun Hijriah.
Kedua, ayat tersebut ditutup dengan :
Mengandung makna bahwa pembagian waktu, baik menurut perhitungan Matahari atau perhitungan Bulan, agar seseorang cermat memperhitungkan waktu dan tidak menyia – nyiakan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu untuk meningkatkan Taqwa kepada Allah Ta’ala. Karena itulah Allah Ta’ala menentukan bentuk – bentuk Ibadah, dalam penyelenggaraannya, kadang berpedoman putaran Bumi dan Bulan atas Matahari, seperti menentukan waktu sholat lima waktu. Tetapi dalam momentum ibadah Puasa misalnya, Allah menentukan mulainya bulan Ramadlan justru menggunakan pedoman putaran Bulan atas bumi alias Qamariah.
Jadi, penghormatan Ibadah Islam berkait langsung dengan fenomena Alam.Penghormatan waktu untuk tidak disia – siakan adalah ibadah, menjaga fenomena Alam dengan cara menjaga Ekosistem Alam adalah juga ibadah dalam bentuk lain. Dan ini ada Nilainya, ada pula pahalanya.
Perubahan Waktu Mengandung Makna
Pada umumnya, setiap pergantian Tahun, kita hingar bingar menyelenggarakan kegiatan – kegiatan untuk memberi harapan baru. Ironisnya, justru kita tidak menyadari, bahwa sesungguhnya, setiap saat, waktu terus berjalan tanpa bisa kita hentikan dan kita kendalikan. Karena yang Maha Tahu kapan berhentinya waktu hanya Allah Ta’ala. Ibnu Atha’illah as Sakandary berkata :
“Hak – hak kita dalam waktu mungkin saja diganti di lain waktu. Tapi hak – hak waktu atas kita, tidak mungkin diganti di lain waktu”.
Pada tanggal dua Ramadlan misalnya, seseorang karena kemurahan hukum syariah diperkenankan untuk tidak berpuasa, tetapi dapat diganti di bulan syawalnya. Tetapi setiap waktu memiliki hak terhadap kita, misalnya usia. Usia telah ditentukan jumlah tahunnya, bulannya, jamnya bahkan detiknya, Apabila satu detik saja lewat dari amal shaleh, maka tidak bisa diganti di luar perhitungan usia yang telah ditentukan.Inilah hak waktu terhadap manusia, setiap saat harus ingat kepada Allah Ta’ala, dengan dzikir.Tanpa dzikir, musnahlah waktu, dan itu berarti kesempatan untuk menjadi manusia abdi Tuhan hilang. Manusia dicipta untuk ibadah, tanpa ibadah, maka tugas kemanusiaannya tidak tertunaikan, Naudzubillah. Menurut Imam Ibn Atha’illah
Hak waktu atas manusia, apabila ditinjau kepentingannya terhadap Allah Ta’ala ada empat :
Pertama, setiap saat manusia tidak bisa lepas dari hal mendapat nikmat atau hal mendapat coba’an.
Kedua, setiap saat manusia tidak bisa lepas dari hal taat kepada Allah atau hal maksiat.Hak waktu kepada manusia adalah, setiap nikmat datang, manusia dituntut memuji Allah dan syukur. Setiap cobaan datang, manusia dituntut sabar dan rela hati . Setiap melakukan taat kepada Allah Ta’ala, sang waktu menuntut hadirnya hati atau khusyu’ menyaksikan keagungan sifat dan Asma Allah. Dan setiap dicoba melakukan maksiat, sang waktu menuntut kita memperbanyak Istighfar dan Taubat. Jadi sesungguhnya setiap waktu berjalan dan berganti, seyogyanya Riyadlah dan Mujahadah kita lakukan, berburu dengan waktu, terus – menerus dan bersunggguh – sungguh.
Pergantian Waktu Berarti Perbaikan Diri
Tersebut dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat Abi Hurairah R.A bahwasannya Rasulullah. bersabda :
“ Bersegeralah kamu Sekalian untuk melakukan amal – amal shaleh, karena akan terjadi sesuatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tetapi pada waktu sore ia kafir. Ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan Dunia ( Riwayat Muslim).
Nah, pembaca budiman Rasulillah dalam sabdanya ini memperingatkan :
Pertama, Cepat – cepatlah berbuat baik, sebab waktu akan terus melaju cepat per detik meski apapun terjadi. Seiring lajunya waktu berjalan akan terjadi perubahan – perubahan, termasuk niat baik, bisa saja berubah cepat menuju niat yang kurang baik. Untuk itu setiap terbersit niat dalam hati, cepatlah melaksanakan niat baik tersebut agar tidak tertunda – tertunda yang berarti menyiakan waktu.
Kedua, Perubahan haruslah menuju yang lebih bagus Amalnya, baik secara mikro untuk diri atau makro untuk umat. Sebab ada syair yang menjelaskan dawuh shahabat Ali Bin Abi Thalib R.A.
“ Sisa – sisa usia, tidak akan ada nilainya, apabila tidak setiap pagi dihitung – hitung semakin habis masanya, Seseorang akan menemukan bahwa waktu hilang musnah, Apabila amal buruk tidak ditindas oleh Amal terpuji”.
Hari – hari Hisab harus diyakini setiap saat sebelum kita bersua dengan kata hikmah” Dunia Ada Usaha Tiada Hisab, Tapi Akhirat Pasti Hisab Usaha Purna” Agar usia mempunyai makna, maka setiap saat kita harus melakukan sesuatu kebaikan, seberapapun kecilnya amal tersebut. Justru amal yang sepele, karena kecil bentuknya, terkadang malah diterima Allah Ta’ala.
Jangan Lupa Tuntunan dan Sumber Pokok
Bersegera melaksanakan niat baik adalah bagus, perubahan waktu yang disertai peningkatan amal, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif adalah lebih bagus. Tetapi kedua langkah atau hal tersebut tidak akan memiliki arti,menurut kerangka pemikiran, apabila pengerjaannya tidak dibarengi tuntunan Rasulillah,Islam atau literatur sumber hukum tertulis Al Qur’an.
Ibadah dan amal Shaleh adalah mutlak harus merujuk Al Qur’an dan Al Hadits. Rasulullah menuntut umat supaya berakidah benar dan tepat Bahwa Tiada Tuhan Melainkan Allah Dan Muhammad Adalah utusanNya.Mulai 610 Masehi saat ayat Al Qur’an Pertama diturunkan sampai perintah shalat pada tahun ke Tujuh. Dan pada saat Hijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 Masehi. Hasil Perjuangan Beliau yang luar biasa kelihatan nyata. Yang ditandai antara lain :
Pertama,Rasulullah. Dengan pemimpin Madinah menyelenggarakan satu bentuk Pemerintahan Baru “ Madinah” yang terdiri dari umat Islam, Nasrani, Yahudi dan Umat Tradisional Arab atas dasar persamaan hak dan kewajiban.
Kedua, Perluasan dan percepatan Wilayah proses Islamisasi meliputi Makkah, Madinah dan sebagian wilayah Imperium Romawi dan Persia.
Dua perkembangan di atas, sebagai pilar pemikiran sahabat Umar Bin Al Khattab ketika memegang kendali pemerintahan Islam, yaitu saat beliau menjadi Khalifah ke II “ Tahun Hijriah Sebagai Tahun Pemerintahan”.
DIarsipkan di bawah: Agama, Berita | Leave a Comment »






















