Puisi Abu macel

PUISI ALA ABU MACEL

Abu Macel kerap diminta secara spontan oleh sahabat-sahabatnya untuk menyegarkan suasana. Baginya itu merupakan bentuk tata cara bersilaturrahim yang dikemas dengan humor. Demikian juga, manakala suasana sudah jenuh saat ngobrol tentang kebudayaan yang diselenggarakan oleh teman-teman dari Taman Budaya Mataram, beberapa waktu lalu.

Menjelang ahir acara, Zaini seniman berambut gondrong itu tampil spontan membaca puisi tentang kebudayaan. Puisinyapun ditulis di buku yang biasa digunakan untuk mencatat untung rugi warung rokok. Ketika membaca bagian terakhir puisi itu, terkesan ia belum menghapalnya sehingga cara membacanyapun menjadi tergagap-gagap.

Abu Macel tak mau ketinggalan, ketika diminta membacakan deklarasi Majelis Dialog Budaya, iapun sempat berpuisi spontan tanpa naskah. “Saya ingin seperti Mas Zaini, saya mencoba mengumpulkan kata-kata yang saya ingat saja. Apakah ini tergolong puisi atau tidak silahkan dibenarkan dengan cara yang berbudaya.” Katanya menirukan gaya para seniman itu. Semua mata dan telinga tertuju kepadanya. Pak Sabidin dan Pak Agus Fathurrahman terpaksa harus menggeser pandangannya agar pandangannya sempurna memandang Abu Macel yang berdiri disamping kanannya. “BERJALAN DARI KEJAUHAN…..” ia mengawali puisinya. “MENUJU DAERAH NAN SEPI. PERLAHAN KUBUKA PINTU, KEMUDIAN JONGKOK SAMBIL MENATAP KEDEPAN. WAJAH MERAH BUKAN MURKA. NAFAS TERSENGAL BUKAN LELAH. SATU PERSATU JATUH BERGUGURAN KE BUMI. HANCUR BERKEPING DENGAN AIR. SELAMAT TINGGAL SAUDARAKU KATANYA. HAL ITU SERING KULAKUKAN DI SEBUAH BULIK KECIL YANG BERTULISKAN WC….”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.