FIKIH SEORANG GADIS


Hanifah, anak perempuan Imam yang agung, Abu Haifah An-Nu’man, dilamar oleh seorang lelaki dari amirul mukminin, tapi Imam Abu Hanifah tidak menyetujui lamaran ini, lalu dia menyuruh salah seorang muridnya menikahi anak perempuannya?
Imam bertanya kepada muridnya,

“Apakah kau menerima anakku sebagai isterimu?”
nama-nama-istri-muhammadsaw
“Dari mana saya mendapat kemuliaan ini yang mulia,” tanya murid.

“Aku telah menikahkannya denganmu,” kata Imam

“Aku menerimanya,” jawab murid itu.

Imam kemudian menyuruhnya untuk tinggal di rumah sesudah waktu isya, menunggu isterinya. Sesudah salat isya’, imam mengantarkan anak perempuannya ke rumah suaminya.

Pada hari-hari pertama pernikahan, Hanifah mendapati suaminya pergi meninggalkannya untuk mencari ilmu dan mengkajinya. Dia meminta kepada sang suami untuk diperbolehkan salat fajar di belakang bapaknya. Seusai salat fajar, ia menanyakan satu pertanyaan kepada bapaknya,

“Wahai bapakku, aku mengetahui bahwa termasuk hak isteri terhadap suaminya di minggu pernikahan adalah suami melonggarkan waktu khusus untuknya.”

Imam menjawab, “Kau benar, anakku.”

Suaminya memahami maksud dari pertanyaan isterinya kepada imam.

Suami berkata, “Aku paham, aku telah mengurangi hakmu, aku akan memperbaiki kekuranganku itu.”

Sumber: Asyabalunal ‘Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.
MENANGGAPI KOMISI FATWA MUI IZINKAN ABORSI AKIBAT KASUS PERKOSAAN
Komisi Fatwa MUI membolehkan aborsi akibat kasus perkosaan. Fatwa yang dimuat pada harian Republika edisi 19 Mei 2005 ini perlu ditanggapi dan dikaji ulang sesuai dengan norma Islam.
Alasan MUI membolehkan Aborsi:

1. Bila usia janin dalam kandungan belum mencapai 40 hari.
2. Dalam kurun waktu tersebut, diyakini janin dalam kandungan tersebut belum memiliki ruh.
3. Meski dalam kandungan tersebut sudah ada janin, tapi belum ada kehidupan dalam rahim sang ibu.
4. Karena setelah 40 hari, ruh sebagai tanda adanya kehidupan pada janin telah ditiupkan.
5. Karena usia lebih dari 40 hari akan membunuh kehidupan yang sudah ada dalam rahim, sekalipun janin tersebut tumbuh dari hasil perkosaan.
6. Dilandasi pemikiran munculnya kekhawatiran terhadap masa depan anak hasil dari perkosaan, di antaranya penderitaan yang akan ditanggung anak tersebut.

MUI menegaskan bila usia janin sudah lebih dari 40 hari, maka ketetapan fatwa tersebut sudah tidak berlaku lagi.

Untuk mencegah penyalahgunaan fatwa keputusan ini, MUI melakukan dua cara, yaitu:

1. Abosi kasus perkosaan dilaksanakan bila ada keputusan dari sebuah tim yang melibatkan pihak keluarga, dokter, dan ulama setempat, ini untuk memberi keyakinan bahwa wanita tersebut hamil akibat perkosaan.
2. Hanya rumah sakit atau klinik yang telah ditunjuk yang boleh melakukannya. Yang berwenang menentukan nantinya adalah Depkes.

Tanggapan:

Memang sempat terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh mengenai hukum aborsi, antara lain :

1. Para ulama telah ada ijma`( konsensus ) tentang haramnya abortus sesudah janin bernyawa atau berusia 4 bulan lebih.
2. Sebagian Fuqaha Hanabalah ada yang membolehkan abortus asalkan belum berumur 40 hari, karena ada sebagian riwayat bahwa peniupan ruh terhadap janin itu terjadi pada waktu berusia 40 hari/ 42 hari.
3. Sebelum diberi ruh/ nyawa pada janin ( yaitu sebelum usia 4 bulan ), ada beberapa pendapat:

a. Ada ulama yang membolehkan abortus, antara lain ulama Hanafiyyah, Sebagian ulama Syafi`iyyah dan Hanabalah serta Muhammad Ramli dalam kitab Al Nihayah dengan alasan karena belum ada makluk yang bernyawa.
b. Ada ulama yang memandangnya makruh dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan.
c. Dan, ada pula yang yang mengharamkannya antara lain ulama Malikiyyah, Zhahiriyyah, Sebagian Syafi`iyyah dan Hanabalah, Ibnu Hajjar dalam kitabnya Al Tuhfah dan Al Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.

MUI membolehkan aborsi akibat kasus perkosaan jika usia janin dalam kandungan masih belum mencapai 40 hari. MUI mungkin mengambil sebagian pendapat Fuqaha yang membolehkan aborsi sebelum janin berusia 40 hari. Ini adalah sebagian ulama Hanabalah.

Kita hormati fatwa MUI ini, namun yang dikhawatirkan jika fatwa ini dilegalkan dan disebarkan akan terjadi hal- hal yang tidak kita inginkan yaitu merajalelanya aborsi yang disebabkan oleh hamil di luar nikah, kumpul kebo, perkosaan dll, karena fatwa MUI telah membolehkannya bila belum berusia 40 hari. Karena itu, fatwa ini hendaknya dikaji ulang dan dipikirkan sisi manfaat dan madharatnya. Sebagai pertimbangan adalah hal-hal di bawah ini :

4. Karena abortus pada hakekatnya pembunuhan terhadap janin secara terselubung. Padahal Allah melarang membunuh anak. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Al-Israa’:31)
5. Adanya larangan membunuh anak dalam sebagian hadits.
6. Jika pembolehan aborsi akibat kasus perkosaan ini akan membawa dampak negatif bagi masayarakat, maka mencegah bahaya itu lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat. Karena adanya pencegahan aborsi saja, banyak yang masih melakukannya, apalagi kalau didukung dengan adanya fatwa, maka pelakunya diperkirakan akan kian bertambah banyak. Ini sangat berbahaya, karena itu harus dicegah dengan kekuatan hukum. Ada beberapa kaidah fikih. Pertama, Adh-dhararu zuyaalu yang artinya bahaya harus dihilangkan. Kedua, darul mafaasid muqaddam ‘alaa jalbil mashaalih yang artinya menghindari madharat (bahaya) harus didahulukan atas mencari(menarik)
maslahah(kebaikan). Ketiga, irtikaab akhaffu dhararain waajibun yang artinya menempuh salah satu tindakan
yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu adalah wajib.
7. Selama ini, satu-satunya jenis aborsi yang dibolehkan di Indonesia hanya satu, yaitu aborsi yang dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan sang ibu, yang dalam istilah kedokteran disebut Abortus provocatus medicinalis.
8. Masalah hukum aborsi dalam kondisi normal, pada dasarnya dilarang dalam syariat Islam, karena bertentangan dengan prinsip kemanusiaan, normal sosial, risalah agama untuk memperbanyak keturunan yatu terhitung sejak bertemu sel sperma laki-laki dengan sel telor perempuan yang menghasilkan makluk baru dalam rahim sang ibu. Makluk baru ini harus dihormati, meskipun ia hasil dari hubungan yang haram seperti zina. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas Ulama. Hal ini berdasarkan hadits di mana Rasulullah memerintahkan kepada seorang wanita dari suku Ghomidiyyah yang memohon kepada beliau mensucikannya dengan hukuman rajam, agar menunggu sampai melahirkan anaknya, kemudian setelah itu ia disuruh menunggu sampai anaknya tidak menyusui lagi, baru kemudian dijatuhi hukuman rajam. Hal ini menunjukkan bagaimana seorang manusia sangat dihormati keberadaannya, kendati dia hasil perzianaan. Karena bayi yang terlahir tidak akan menaggung dosa apapaun dari perbuatan orang lain, termasuk ibu dan bapak “biologis” nya.
9. Dalam sejarah ada seorang panglima perang pada masa Muawiyyah menjabat sebagai kholifah yang bernama Ziyad Ibnu Abihi (anak ayahnya). Dia disebut dengan nama demikian karena ibunya tidak pernah mengungkapkan siapa ayahnya yang sebenarnya hingga akhir hayatnya. Walau demikian, dia mendapat kedudukan yang tinggi dalam bidang ketentaraannya dan namanya sangat harum di kalangan pahlawan dan pejuang Islam yang berjihad di jalan Allah. Dan bisa mendapatkan tempat yang begitu mulia, padahal ayahnya tidak pernah di ketahui. Wallahu A`lam.
10. Berdasarkan KUHP pasal 299, 346, 348, dan 349 negara melarang abortus, termasuk menstrual regulation dan sanksi hukumannya lebih berat, bahkan hukumannya tidak hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat kejahatan ini dapat dituntut, seperti dokter, dukun bayi, tukang obat, dan sebagainya yang mengobati atau yang menyuruh atau yang membantu atau yang melakukan sendiri.
11. Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi berkata, “Aborsi yang benar-benar atas indikasi medis dapat dibenarkan, seperti janin yang cacat genetik yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan. Dan apabila tanpa indikasi medis, maka aborsi merupakan perbuatan yang tidak manusiawi, bertentangan dengan moral agama dan mempunyai dampak negatif berupa dekadensi moral terutama di kalangan remaja dan pemuda, sebab legalitas abortus dapat mendorong keberanian orang untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah (free sex atau kumpul kebo).”
12. Mahmud Saltut, eks Rektor Universitas Al Azhar Mesir berkata, “Bahwa sejak bertemunya sel sperma dengan ovum, maka pengguguran adalah suatu kejahatan dan haram hukumnya, sekalipun si janin belum diberi nyawa, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makluk baru yang bernyawa bernama manusia yang dihormati dan dilindungi eksistensinya. Dan makin jahat dan makin besar dosanya, apabila pengguguran dilakukan setelah janin bernyawa, apalagi sangat besar dosanya kalau sampai dibunuh atau dibuang bayi yang baru lahir dari kandungan. ”
13. Imam Al Suyuti berkata, “Abortus itu merusak atau menghancurkan janin calon manusia yang dimuliakan Allah, karena ia berhak tetap survive dan lahir dalam keadaan hidup, sekalipun eksistensinya hasil dari hubungan yang tidak sah (di luar pernikahan yang sah). Sebab, menurut Islam, setiap anak lahir dalam keadaan suci (tidak ternoda).” Wallahu A`lam

Demikian tanggapan ini dibuat dengan pertimbangan yang matang berdasarkan Al-Quran, hadits, kaidah fikih, qaul ulama, dan kitab KUHP tentang larangan aborsi serta berdasarkan pertimbangan akal yang sehat. Besar harapan agar fatwa MUI “izinkan aborsi akibat kasus perkosaan” ini dikaji ulang kembali. Dan manakala setelah dikaji ulang fatwa ini membawa dampak yang lebih negatif bagi masyarakat, hendaknya fatwa ini dicabut dan diganti dengan yang sebaliknya yaitu pelarangan aborsi yang disebabkan hamil karena kasus perkosaan. Dan, bila fatwa ini membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dari pada madharatnya, maka fatwa ini tetap dipertahankan tidak jadi soal, asalkan syarat- syarat yang ketat tentang pembolehannya tetap diaplikasikan dan sekali-kali jangan dilanggar. Karena adanya larangan aborsi saja, aborsi tetap berjalan. Apalagi bila aborsi akibat perkosaan diizinkan dan dilegalkan, dikhawatirkan aborsi akan semarak dan ramai-ramai dilakukan oleh orang banyak. Wallahu A`lam bish shawab. Nas alullaha at taufiq was sadaad.

Bahan bacaan yang lain :

14. Fiqh Kontemporer, Dr. Setiawan Budi Utomo.
15. Dialog Dengan KH. Sahal Mahfudh.
16. Qararat Majma` Al Fiqh Al Islam.
17. Seratus Masalah Agama, KH. Syafi`I Hadzami.
18. Kitab Jami` `Ulum al Hikam.
19. Fatwa kontemporer dan Al Halal Wa Al Haram, Dr. yusuf Al Qardhowy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s