Ternyata, Manusia Tidak Ada Apa-apanya

sperma-ilustrasi-_110819000915-157
Amukan gempa dan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut) mestinya menyadarkan kita. Betapa keadaan dapat berubah dalam waktu sekejap menurut kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akal kita tidak mampu mencerna bagaimana peristiwa itu bisa terjadi dalam waktu begitu cepat. Manusia disapu oleh gelombang tanpa memilih bulu, ibarat kotoran yang tumpah dari bak sampah lalu hanyut ke muara. Subhanallah.

Dulu, gelombang tsunami hanya menimpa Jepang dan sekitarnya. Kini, gelombang yang mematikan itu melebar sampai ke daerah-daerah seperti Aceh, yang akhir-akhir ini memang selalu dirundung duka. Peristiwa gelombang tsunami adalah peristiwa yang sulit dianalisis sehingga sangat tepat dijadikan pelajaran berharga.
Bukti Kekuasaan Allah

Untuk mengetahui bukti kekuasaan Allah, kita tidak perlu jauh-jauh mencari. Apa yang ada pada diri manusia sudah cukup. Manusia terbentuk dari hasil pertemuan benih dari laki-laki (sperma) dengan bibit dari perempuan (ovum). Prosesnya untuk sampai ke tingkat terjadinya seorang manusia, sangatlah rumit. Ia tersimpan dan terproses dalam sebuah rahim yang dilengkapi dengan plasenta. Dari alat itu, Allah menyalurkan makanan bagi janin sampai pada usia yang siap untuk lahir. Sebuah proses yang sangat sempurna.

Allah juga menciptakan bibit-bibit perwatakan dan karakternya. Setelah lahir, orangtua hanya bertugas memelihara dan menjaga demi lebih sempurnanya bibit-bibit kehebatan yang dimilikinya seperti kecerdasan, kegagahan, kecantikan, dan lain-lain. Tidak mengherankan kalau keberadaan seseorang dapat menunjukkan kelebihan-kelebihan, karena di dalam dirinya memang Allah telah menyiapkan potensi itu.

Seorang dapat menggemparkan dunia dengan penemuannya. Penemuan itu dapat mempermudah manusia melakukan pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu dan tenaga yang banyak. Contohnya membuat komputer dan telepon seluler. Juga membuat rumusan-rumusan yang mempermudah orang merancang dan mendesain bangunan, mesin, dan sebagainya.

Juga tidak sedikit orang yang berjaya dengan kecantikan dan kegagahannya. Tampilan wajahnya dipajang sebagai bintang iklan dan diminta menjadi pemain sinetron. Dari bagian fisik lainnya, misalnya kaki, pemain sepakbola terbaik dunia tahun 2004, Ronaldinho, bisa memperoleh penghasilan Rp 7 milyar per bulan. Ia bisa membuatkan sebuah istana untuk ibunya. Ada juga yang memanfaatkan potensi suara yang merdu untuk meraih popularitas dan keuntungan materi dengan menyanyi. Masih banyak lagi contoh yang dapat dikemukakakan sebagai bukti kehebatan potensi yang diberikan Allah kepada manusia.

Allah juga pernah menciptakan manusia-manusia yang punya kemampuan fisik luar biasa. Milsanya Kaum ‘Ad dan Tsamud yang mampu memahat batu gunung yang begitu keras menjadi rumah tempat tinggal yang lengkap dengan pintu, jendela, dan kamar-kamarnya. Mereka juga mampu membuat bendungan raksasa dengan menggunakan batu-batu besar yang diangkat dengan tangan. Sebagaimana firman Allah:

“Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.” (Asy-Syu’araa’: 149)

Sosok manusia super lainnya yang pernah mewarnai sejarah adalah Fir’aun. Kekuasaannya luar biasa sampai ia sangat yakin bahwa dirinyalah yang maha kuasa. Ia melihat, semua orang tunduk di bawah telunjuknya dan merayap di hadapannya.

Ada pula nama Qarun. Dengan kekayaannya yang melimpah, sebagaimana digambarkan di dalam Al-Qur’an, kunci-kunci gudangnya saja tak mampu digendong oleh seekor unta yang gemuk.

Haman, orang yang memiliki kepintaran mengagumkan dan sangat mahir merancang bangunan. Dia mampu meramal dan memprediksi kejadian 1000 tahun mendatang. Dia pula yang membangun pencakar langit pertama buat Fir’aun untuk mencari Tuhan.

Sungguh Lemah

Di tengah kemampuan-kemampuan hebat yang dimiliki manusia, banyak yang tidak menyadari bahwa semua karunia yang diberikan itu tidak lain hanyalah ujian. Mampukah manusia memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya dengan baik, atau sebaliknya?

Banyak orang hanya terjebak mengurus muka dan kulitnya demi melestarikan kecantikannya. Tak sedikit yang mengalami stress karena diliputi kekhawatiran bakal pudarnya kecantikan muka dan kemulusan kulit yang dibangga-banggakannya. Mereka juga khawatir kulitnya akan keriput diterpa mentari dan diseret oleh masa, serta kaburnya mata yang selama ini menyihir orang untuk memuja-mujanya. Padahal perubahan itu adalah suatu keniscayaan.

Penting disadari bahwa semua itu hanyalah pinjaman sementara yang dalam waktu tak lama akan dikembalikan kepada Yang Punya. Apa kita mampu memanfaatkannya dengan baik, sesuai dengan amanah yang meminjamkan? Ini masalahnya.

Dengan melihat kejadian-kejadian di masa lampau, seperti banjir yang pernah menimpa manusia di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalaam, gempa dahsyat yang memporak-porandakan kaum ‘Ad dan Tsamud, kaum Luth, dan badai yang meratakan dengan tanah kaum Nabi Saleh, nampak sekali bahwa manusia sangat lemah dan tidak berdaya menghadapi kekuasaan Allah. Sedikit pun tidak ada kemampuan membendungnya. Padahal kekuatan fisik orang-orang dulu jauh lebih kuat dan kekar dibanding orang sekarang.

Kejadian pada hari Ahad pagi, 26 Desember 2004 yang lalu di NAD dan Sumut memperlihatkan kepada kita betapa dahsyatnya peristiwa itu. Manusia tanpa daya dan kekuatan disapu oleh air, ibarat sampah yang dihanyutkan ke laut.

Bangunan-bangunan porak-poranda, baik yang terbangun dari beton bertulang maupun hanya terbuat kayu. Akal manusia tidak dapat mencerna bagaimana jalannya kejadian itu. Semua kecerdasan, pengalaman, serta kemampuan analitis tidak dapat digunakan untuk menghindarinya.

Satu-satunya jalan hanya mengembalikan kepada Allah dan mengambil pelajaran berharga lewat kejadian itu. Cara itulah yang akan mendatangkan manfaat buat kita, agar perjalanan kita ke depan semakin sarat dengan muatan kesadaran akan kekuasaan Allah dan akan kelemahan kita di hadapan Yang Maha Kuasa.

Mari kita terus meningkatkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur, sehingga tidak ada yang luput dari pantauan-Nya. Ataukah kita masih senang berlalai-lalai dan berleha-leha? Tidak ada yang dapat menjawabnya selain diri kita sendiri.

Shalat dan Otak Manusia

sholat utama
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia),sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist RiwayatTabrani.

Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat” Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah’ (Q.S Al Kautsar:2)

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya.

Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ???????

Seorang Doktor di Amerika ( Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membukasebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang iwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.

Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

Kesimpulannya :
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal.

Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

Tiada Kemuliaan Tanpa Islam

laa-ilaaha-illallah-dan-unta-250x188
Umar bin Khaththab semoga Allah meridloinya mengatakan: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta\’aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun cara kita mencari kemuliaan tanpa Islam maka Allah akan tetap menjadikannya sebagai kehinaan.”

Kapan Umar mengatakan ungkapan ini ? Kapan Umar menyusun perkataan ini?

Umar mengatakan ini pada moment yang agung dan pada satu periode yang mulia dalam Islam. Beliau mengatakan ini ketika beliau berangkat untuk membuka Baitul Maqdis, untuk mengambil kunci-kunci Baitul maqdis yang telah kita abaikan karena kita mengabaikan Islam.

Umar berangkat ke sana untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis. Kemudian orang-orang Nashara mendengar kedatangan Umar yang namanya telah menguncang dunia, yang jika nama Umar disebut di majlis Kisra dan Kaisar, maka kedua raja ini hampir pingsan mendengarnya, karena takut.

Umar yang tidur di pelepah kurma, tetapi hati para taghut yang berada di atas singgasana ketakutan. Umar yang hanya makan gandum, tetapi para bangsawan yang memiliki emas dan perak gemetar jika melihatnya. Umar yang jika berjalan di suatu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Umar yang sudah dikenal dikalangan muslimin Melayu, India, Iraq, Sudan, Andalus, dan akan dikenal dunia.

Ketika orang-orang Nashara mendengar Umar akan datang untuk mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis, mereka keluar dengan jumlah yang sangat besar. Para wanita keluar di atap-atap rumah, anak-anak keluar di berbagai jalan dan gang.

Sedangkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh tiga panglima, mereka kaluar dalam konvoi pasukan yang belum pernah didengar dunia.

Bagaimana pengawal yang mengiringi Umar yang akan mengambil kunci-kunci Baitul Maqdis ?

Tidak ada iring-iringan yang mengawal ! Orang-orang mengira beliau akan datang dengan para pembesar shahabat, para pembesar Anshar dan Muhajirin dari para ulama dan orang-orang shalehnya, tetapi beliau datang hanya dengan mengendarai satu unta dan ditemani seorang pembantunya. Kadang Umar yang menuntun unta dan pembantunya naik dan kadang Umar yang naik unta dan pembantunya yang menuntun !

Ketika mendekati Baitul Maqdis, para pejabat muslimin bertanya-tanya:
“Siapa itu ? Mungkin salah saeorang tentara yang memberi tahu kedatangan Amirul Mukminin.

Ketika pasukan itu mendekat, ternyata orang tersebut adalah Umar bin Khaththab ! Ketika beliau sampai di Baitul Maqdis, tiba giliran beliau menuntun unta dan pembantunya yang berada di atas unta.

Amr bin Ash mengatakan: “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang menanti kehadiran anda, penghuni dunia keluar untuk menyambut kehadiran anda dan orang-orang mendengar tentang anda tetapi anda datang dengan penampilan seperti ini ?”

Kemudian Umar mengatakan perkataannya yang sangat terkenal, yang tetap diingat sepanjang masa: “Kita adalah umat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta\’aalaa berikan kemuliaan dengan Islam, maka bagaimanapun juga jika kita mencari kejayaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.”

Kita membangun peradaban kita dari nol dengan satu modal; Laa ilaaha illallaah.

Pasukan Umar bin Khaththab keluar dengan 30.000 orang yang bertauhid.
Setiap orang yang bertauhid sama dengan 3 juta tentara dunia sekarang. Mereka keluar untuk berperang melawan Persia, berperang untuk melawan Kisra yang kafir dan sesat. Ketika mereka tiba di Qadisiyah, Kisra ingin melakukan perundingan dengan Umar karena takut mati. Maka ia mengutus Hurmuzan -salah seorang mentrinya- untuk mendatangi Madinah Nabawiyah kota Rasulullah shallallaahu \’alaihi wa sallam untuk duduk bersama Umar Al Faruq di meja perundingan.

Utusan tersebut keluar dengan rombongan yang besar untuk menemui Umar,dengan hati yang hampir robek karena takut…Mengapa? Karena dia ragu-ragu. Bagaimana ia akan bicara dengan Umar bin Khaththab ? Apakah ia akan berbicara secara langsung atau melalui perantara ? Apakah ia akan duduk bersama di atas tanah ? Apakah ia dapat melihat Umar secara langsung tanpa alat dan pengeras suara ?

Maka ia memakai perhiasan, sutra, emas dan perak. Ia menembus jalan dari Iraq menuju Madinah.

Ketika ia masuk Madinah, ia bertanya: “Dimana istana Khalifah Umar?”
Para shahabat mengatakan: “Umar tidak punya istana.”

Ia bertanya: “Bagaimana ia memimpin kalian ?”
Mereka berkata: “Beliau memimpin kami di atas tanah.”

Ia bertanya: “Di mana rumahnya ? Apakah rumahnya memiliki keistimewaan ?”
Mereka menjawab: “ Rumahnya seperti rumah kita.”

Ia berkata: “Tolong tunjukkan pada saya rumahnya.”
Mereka berangkat dan berjalan di gang-gang kota Madinah yang sempit, sampai mereka sampai di sebuah rumah yang kecil miskin yang hanya dibangun dari tanah biasa.

Ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?”
Mereka mengatakan: “Ya”
Ia bertambah takut dan gemetar, ia bertanya: “Apakah ini rumahnya ?”
Mereka mengatakan: “Kita akan tanya keluarganya”

Kemudian mereka mengetuk pintu rumah. Putranya keluar, mereka bertanya: “Apakah Amirul Mukminin ada di rumah ?”
Beliau menjawab: “Beliau sedang tidak di rumah, silahkan anda cari di masjid “

Kantor, istana dan tempat duduknya di masjid.
Utusan ini segera berangkat ke masjid. Anak-anak berjalan dibelakang utusan Beberapa wanita melihat dari atap rumah dan dari balik pintu, untuk melihat orang yang datang dengan sutra dan emas yang bersinar karena pantulan sinar matahari.

Utusan tersebut mencari Umar. Mereka pergi dan memasuki masjid, mengamati orang-orang yang tidur -karena beliau tidur di masjid- maka mereka tidak menemukan. Mereka mengatakan: “Kita cari di tempat lain.
Maka mereka mencari lagi.

Mereka mendatangi sebuah pohon di luar kota Madinah, ternyata beliau berada di situ. Beliau tertidur di di bawah pohon.

Utusan Persia ini tercengang dan semakin takut.

Mereka membangunkan Umar. Ketika beliau bangun, beliau bertanya: “Siapa ini ?”

Mereka mengatakan: “Ini adalah Hurmuzan dan rombongannya, datang untuk berunding dengan anda, wahai Amirul Mukminin.”

Orang Persia tersebut berkata: “Anda telah berhukum dengan adil sehingga anda merasa aman dan bisa tidur.”

Jadi kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka jika kita mencari kejayaan dengan selain Islam, Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita mencari kejayaan dengan pakaian dan penampilan, bukan dengan agama, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan rumah dan istana, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Pada saat kita merasa bangga dengan berbagai kendaraan, kakayaan dam makanan dan merasa bangga dengan Islam maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita. Karena kita adalah umat yang telah Allah berikan kejayaan dengan Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam Allah akan memberikan kehinaan kepada kita.

Mengapa kita tidak merasa bangga, wahai para pemuda dan orang tua, mengapa kita tidak merasa bangga dengan Islam ?

Ya… ada ditengah-tengah kita, orang yang tidak ingin masuk lebih dalam pada agama. Dia ingin Islam yang biasa-biasa saja, shalat dan puasa saja.

Sedankan dakwah dan istiqamah adalah sesuatu yang dia tidak inginkan. Mengapa ?

Karena zionisme internasional telah menamakan para da\’i dengan istilah fundamentalis dan berbagai istilah menakutkan lainnya…maka orang-orang yang kurang wawasan, sedikit pengetahuan dan lemah mental (imannya) merasa berat jika dikatakan seperti itu.

Allah Subhaanahu Wa Ta\’aalaa membagi manusia menjadi dua bagian, Allah Subhaanahu Wa Ta\’aalaa berfirman, yang artinya :

“Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan” (QS Al Qalam: 35-36)

Pilihannya hanya satu dari dua, muslim atau mujrim (orang yang berbuat dosa)… orang yang baik atau jelek… sesat atau dapat petunjuk… shaleh atau merusak… taat atau ma\’siyat. Tidak ada pilihan ketiga.

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat ?” (QS Shaad ayat 28)

Saran kita bagi setiap orang biasa yang ingin hidup biasa dalam Islam agar bergabung dengan para wali Allah, orang-orang pilihan,orang-orang yang istiqamah, karena agamawan dalam Islam tidak sama dengan agamawan dalam Nashrani.. tidak..pilihan kita hanya satu,menjadi orang yang istiqamah sukses bahagian atau sesat bodoh dan gagal dalam hidup.

Dalam agama kita hanya ada satu pilihan, menjadi orang yang baik , bertaqwa, wara\’ dan menghadapkan diri kepada Allah atau menjadi orang yang celaka, lalai, sesat yang akan dikembalikan ke neraka yang menyala-nyala.

Allah Subhaanahu Wa Ta\’aalaa berfirman:

“Demikianlah Kami (Allah) jadikan kalian umat wasath (pertengahan).
Betapa indah ungkapan wasath (pertengahan). Apa yang dimaksud dengan wasath ? Banyak dari para ahli tafsir yang mengatakan bahwa maksudnya adalah umat pilihan. Sebagian yang lain mengatakan maksudnya:
pertengahan dalam segala sesuatu.” (QS Al Baqarah 143)

Kedua makna ini benar. Alhamdulillah kita ini umat Islam memiliki aqidah pertengahan. Kita tidak hidup tanpa aqidah seperti orang-orang yang tidak punya pegangan. Kita tidak hidup dengan hati kosong, jiwa kosong, tetapi kita punya aqidah. Namun kita juga bukan yang berlebihan dalam beribadah sampai-sampai menyembah segala sesuatu,menyembah batu, pohon, bintang, bulan, sapi, harta, pakaian…tidak…
tetapi kita beribadah kepada Dzat yang memang berhak dijadikan tujuan ibadah.

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki

Pengenalan Kepada Sejarah Islam

SEJARAH-ISLAMmasjid-jami-baiturrahman-kediri.jpg
Wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad sewaktu 40 tahun. Sejarah Islam yang lama telah menceritakan bahawa pada satu malam dalam bulan Ramadhan, Malaikat Jibril telah datang kepada Muhammad semasa baginda sedang tidur dalam sebuah gua bernama Hira` dan berkata: “Bacalah!” Muhammad berasa keberatan dan sebanyak 3 kali Malaikat tersebut hampir merimaskan Muhammad sehingga baginda berkata: “Apa yang hendak dibaca!” Kemudian malaikat berkata: “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, Dia yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” . Ini ialah perkataan Arab yang bermaksud “bacalah” , dan digunakan untuk menggambarkan kitab yang mengandungi wahyu-wahyu yang dipercayai oleh umat Islam bahawa diturunkan oleh Allah untuk Muhammad. Selepas wahyu yang pertama, Muhammad menerima banyak lagi wahyu, yang kemudiannya disebarkan kepada para penduduk di tempat kelahirannya. Dia mendesak mereka untuk membuang kepercayaan dan perbuatan mereka menyembah berhala-berhala dan mempercayai Tuhan yang yang esa dan universal. Muhammad dilahirkan di sebuah kawasan lembah di Makkah yang bernama Hijjaz di Barat Arab pada tahun 571 M. Pada ketika itu, semenanjung Arab berada pada margin dunia yang bertamadun, iaitu empayar Bezantin dan Parsi tetapi tidak mengarah kepada keduanya. Di bahagian barat daya, kawasannya adalah lembah yang subur, pertanian dan pembandaran membangun sejak zaman dahulu lagi. Namun begitu, bahagian yang paling penting di Tanah Arab termasuk tanah gurun yang gersang, dilegakan dengan kolam-kolam air dan dilintasi dengan beberapa jalan untuk kafilah-kafilah. Kebanyakan populasi di sana ialah golongan nomad yang memelihara binatang ternakan, menyerang kaum yang bersaing dan penduduk di kawasan lembah dan sempadan kawasan mereka. Sesetengahnya hidup dengan bercucuk tanam, di beberapa kawasan yang sesuai. Ada juga yang menjalankan aktiviti perdagangan apabila terdapat acara-acara di luar kawasan yang menyedarkan tentang minat dalam laluan perdagangan trans-Arabian. Terjadinya semula konflik antara Byzantium dan Parsi, sikap angkuh sesama kaum di Timur Tengah., selepas lebih satu abad dalam keadaab aman, tiba masanya kedua empayar menjadi sangat aktif dalam dan berhampiran Arab semasa abad ke-6. Beberapa bandar kecil terletak dalam kesesakan yang berlalu melepasi Arab, antara dunia Mediterranean dan Timur. Satu daripada bandar-bandar ini ialah Makkah, asalnya ditubuhkan oleh orang Arab selatan, kemudian didiami oleh kaum Arab berbangsa Quraisy. Penduduk-penduduk semenanjung Arab mempunyai literasi bahasa yang biasa dan kaya dengan puisi-puisi, yang membantu mereka membina identiti mereka. Tetapi mereka tidak mempunyai peraturan politik sendiri dan kepercayaan mereka tentang agama masih keliru, menyembah banyak tuhan yang mereka percaya berada di bawah suatu kuasa yang agung dipanggil Allah. Mereka diperkenalkan dengan agama-agama lain, terdapat koloni Kristian dan Yahudi. Sesetengah orang Arab bertukar agama seperti agama mereka. Selebihnya menjadi tidak puashati dengan penyembahan berhala oleh kaum mereka tetapi mereka tidak juga berpuashati dengan kepercayaan Kristian dan Yahudi. Mereka dikenali secara tradisi Arab sebagai Hanif. Seruan Muhammad di Makkah mula mendapat perhatian, pada mulanya dari kaum keluarganya sendiri, kemudian menjadi kumpulan yang lebih luas. Selepas beberapa lama, mereka mendapat penentangan daripada kaum mereka yang mendakwa bahawa Muhammad membawa seruan yang menentang kepercayaan dan minat mereka.Tekanan dalam pelbagai bentuk dan penyiksaan secara fizikal digunakan ke atas pengikut-pengikut Muhammad untuk melemahkan pegangan mereka. Hubungan antara Nabi Muhammad dan penduduk setempat menjadi semakin buruk sehingga sesetengah pengikutnya mengambil keputusan untuk berhijrah ke Ethiopia. Pada tahun 622 M, kira-kira 13 tahun selepas kenabian, Muhammad telah membuat perjanjian dengan wakil dari Yathrib, sebuah bandar lain di Hijaz iaitu kira-kira 280 batu ke utara Makkah. Penduduk Yathrib bersetujuan menyambut kedatangan Muhammad di kalangan mereka, menjadikannya sebagai pengadil dan untuk mempertahankannya dan para pengikut lain dari Makkah sepertimana mereka dapat mempertahankan diri mereka. Muhammad telah menghantar 60 keluarga di Makkah yang telah menyertainya ke Yathrib. Muhammad sendiri akhirnya telah mengikuti mereka pada September 622. Di Makkah, Muhammad telah menyeru sendiri tentang kepercayaan baru, menentang pemerintah yang tidak mengambil hirau tentang seruannya dan memusuhinya.Di Madinah, Muhammad adalah ketua negara yang pertama, kemudian menjadi pentadbir dan mewujudkan kuasa politik dan ketenteraan serta keagamaan. Peranan yang baru ini adalah digambarkan dalam pengajarannya dan aktiviti-aktiviti Muhammad sendiri, juga dalam bentuk wahyu yang perolehi untuk memimpin masyarakatnya. Ayat Makkiah dalam al-Quran, menekankan tentang persoalan etika fahaman manakala ayat Madaniah membicarakan tentang perkara-perkara politik dan undang-undang, berdasarkan masalah yang berlaku setiap hari dalam masyarakat Islam yang menjadi negara Islam selepas penghijrahan. Selama 10 tahun selepas Hijrah, Rasulullah telah meneruskan ke atas masyarakat Islam dengan peperangan dan memimpin mereka pada tahun 630. Makkah telah ditakluk dan dibawa ke dalam jajahan Islam. Pada 8 Jun 632, Rasulullah telah meninggal dunia selepas mengalami tempoh sakit yang pendek. Dia telah berjaya membuat pencapaian yang hebat. Dia telah membawa agama Islam yang suci dan tinggi darjatnya kepada penduduk barat Arab.Dia juga membawa kepada orang-orang yang beriman kitab yang mengandungi wahyu yang kekal sehingga akhir zaman sebagai panduan hidup umat Islam. Rasulullah juga telah mewujudkan komuniti baru dan negara baru yang tersusun, mempunyai sistem ketenteraan yang baik, kuasa dan prestij yang menjadi faktor yang terkenal di Tanah Arab.

Tertubuhnya Sebuah Negara Islam

Perkataan Islam biasanya difahami oleh umat Islam dan orang lain sebagai menyerah diri, beriman kepada Allah. Seorang Muslim bermaksud seorang yang melaksanakan tanggungjawab untuk menyerah diri kepada Allah. Umat Islam dalam konteks ini adalah seseorang yang menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah yang satu bukan menyembah pelbagai tuhan seperti yang dipercayai oleh masyarakat Jahiliyyah di Makkah sebelum kedatangan Islam. Islam adalah agama yang `syumul` iaitu lengkap dan menyeluruh. Dari segi aspek sejarah, ia mungkin dilihat sebagai satu permulaan, asas kepada agama, empayar dan tamadun baru. Terdapat satu sebab penting yang perlu dihormati iaitu tugas Muhammad berbeza daripada Isa dan nabi-nabi yang lain yang hanya berperanan pada zaman mereka sahaja. Pada mulanya, Muhammad juga sedemikian, seperti utusan-utusan Allah yang lain, sebagai pengajar yang rendah diri dan menekankan tentang keagamaan. Tetapi selain dari pejuang agama, baginda juga telah mencapai kemuliaan yang tinggi. Melalui aktiviti-aktiviti oleh Nabi Muhammad S.A.W, Islam telah dilibatkan dengan politik sejak awal lagi. Umat Islam Madinah bukan sekadar satu kelompok masyarakat, tetapi juga sebuah negara. Peristiwa-peristiwa berikutnya menjadikan kelompok tersebut sebagai satu pusat bagi sebuah empayar. Pada pandangan Islam, semua kedaulatan adalah milik Allah yang menurunkan kuasa dan undang-undang kepada para nabi. Nabi Muhammad S.A.W adalah pembawa wahyu Allah. Pentadbir mengikut matlamat Tuhan, wakil Tuhan untuk golongan yang beriman dengan-Nya. Nabi Isa A.S. telah mengarahkan orang-orang orang-orang Kristian untuk taat dengan perintah Tuhan dan mematuhi pemerintah dengan apa yang diarahkan. Selama tiga abad arahan dan penekanan ini dipegang oleh mereka. Pemisahan antara keduanya diteruskan dan sebati dalam fahaman dan perbuatan mereka. Penganut Agama Kristian telah mencipta sendiri struktur institusi yang terasing daripada negara yang dikenali sebagai Gereja Kristian dengan undang-undang dan hierarki tersendiri. Perubahan besar telah datang dengan pertentangan kepada agama Kristian di Konstatin, kerajaan Roman dan permulaan kepada hubungan yang rumit di antara gereja dengan kerajaan. Pemisahan antara dua kuasa ini tidak wujud langsung dalam Islam. Perkataan `sekular dan agama` dan `keagamaan dan duniawi` tidak ada dalam istilah Arab terdahulu. Di Rome, pemerintah adalah Tuhan, di negara-negara Kristian, Tuhan dan pemerintah berkongsi kuasa. Dalam Islam pula, Tuhan adalah pemerintah tertinggi dan ketua dalam komuniti adalah khalifah (pemimpin) di bumi. Nabi Muhammaad s.a.w. telah menubuhkan sebuah negara Islam yang melaksanakan undang-undang Islam sepenuhnya. Rakyat mendapat hak dan perlindungan yang adil dan saksama. Sebuah piagam juga dibentuk dan dikenali sebagai Piagam Madinah (Sahifah Madinah). Piagam ini bertujuan untuk melahirkan sebuah badan pemerintahan Islam yang mantap dari segi keadilan, kestabilan dan dapat mencapai kemajuan yang dikehendaki. Ia merujuk kepada kanun, piagam atau atau perjanjian bertulis tentang hak dan tanggungjawab pemerintah dengan rakyat di bawah pemerintahannya. Piagam ini melibatkan hubungan sesama Islam iaitu Muhajirin dan Ansar, dan juga hubungan antara orang Islam dan bukan Islam termasuk Yahudi. Piagam menggariskan beberapa prinsip umum mengenai masyarakat dan negara Islam mempunyai penduduk berbilang kaum dan agama. Umat Islam telah berjaya membuka semula kota Makkah pada tahun 630 M/ 9 Hijrah. Seramai 10 000 orang umat Islam di bawah pimpinan Rasulullah telah berjaya memasuki dan memusnahkan sebanyak 360 berhala di sekitar Kaabah. Madinah menjadi semakin maju dan kukuh dari ekonomi mahupun ketenteraan. Apabila wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, ajaran dan misi kenabian baginda telah disempurnakan. Maka selesailah tugas yang diberikan kepada baginda supaya mengembalikan semula kepercayaan kepada Allah yang satu . Kepercayaan ini seperti yang diseru oleh nabi-nabi sebelum ini tetapi telah diseleweng dan dimusnahkan. Baginda juga bertanggungjawab untuk membasmi penyembahan berhala, memperkenalkan wahyu Allah, menanamkan kepercayaan yang benar dan undang-undang Allah. Semuanya dilaksanakan oleh baginda semasa hidupnya. Dalam kepercayaan Islam, Muhammad adalah nabi yang terakhir. Apabila baginda wafat pada 632 M, wahyu daripada Allah kepada manusia telah sempurna lengkap. Tidak mungkin wujud lagi nabi dan sambungan kepada wahyu tersebut. Walaupun begitu, fungsi keagamaan tetap kekal dan mempertahankan perundangan Islam serta disebarkan kepada seluruh manusia. Ciri-ciri keagamaan juga diperlukan dalam politik, kuasa ketenteraan dan kedaulatan sebuah negara.

Krisis Pertama: Khalifah

Kematian Nabi Muhammad S.A.W telah menimbulkan krisis pertama dalam Islam. Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah menganggap dirinya lebih dari seorang makhluk biasa namun dia berbeza kedudukan daripada yang lain kerana menjadi penyampai wahyu Allah dan pemimpin kepada penganut-penganut agama Allah, tetapi baginda sendiri bukan tuhan atau bukan makhluk biasa. “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?. Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali`Imran, 3: 144) Nabi Muhammad S.A.W wafat dan tiada lagi nabi selepas baginda. Pemimpin dalam masyarakat telah tiada dan perlu diganti. Dalam saat genting ini, lelaki yang paling berwibawa dan paling aktif di antara sahabat-sahabat nabi adalah Abu Bakar. Dia adalah antara sahabat terawal yang memeluk Islam dan dihormati oleh orang-orang Islam. Dia dilantik sebagai pemimpin dengan gelaran khalifah yang bermaksud … Keturunan ketua-ketua tersebut tidak dikenali oleh orang-orang Arab pada waktu itu. Dari atas sempadan di utara Arab, dua empayar besar Byzantium dan Persia, memperlihatkan kepada dunia tamadun mereka yang unggul di benua Arab. Mereka menggunakan pemerintahan secara monarki.Negara-negara yang berada di Tenggara Arab ditadbir untuk beberapa lama berdasarkan undang-undang tempatan, raja yang diwarisi. Namun di kalangan orang-orang Arab di bahagian utara yang menghasilkan pengenalan utama yang menyokong bentuk baru, bentuk yang sah telah wujud, dan ketua kabilah selalunya dipilih bukan daripada satu keturunan yang tetap tetapi dari kalangan ahli keluarga dari sebuah keluarga yang mulia. Namun begitu, jika orang-orang Arab mengetahui tentang monarki, mereka tidak akan menyukainya dan merujuk kepada sistem beraja pada zaman pra-islam selalunya bermusuhan. Prestij tidak sama seperti kekuasaan dan pemilihan untuk ketua kabilah, walaupun dalam perlaksanaaannya terhad kepada ahli-ahli satu keluarga, ia tidak dihalang oleh mana-mana undang-undang pertukaran. Pemilihan adalah peribadi dan dibuat untuk kualiti peribadi-keupayaan untuk membangkitkan dan mempertahankan kesetiaan.Dengan kedatangan Islam, perasaan anti-dinasti yang telah lama wujud dikuatkan dengan sentimen anti-aristokratik yang ditunjukkan dalam kepercayaan Islam tentang persaudaraan dan kesamaan orang-orang yang beriman, dan penolakan mana-mana pengecualian terhadap yang beriman atau kebaikan peribadi. Melalui semua perubahan yang berturut-berturut dalam kekhalifahan seperti telah sebenarnya wujud, fahaman tentang pertukaran elektif kekal termaktub dalam teori dan perundangan Muslim dan pengundian terus terpelihara sehingga dinasti khalifah seterusnya. Abu Bakar dan Umar, khalifah yang pertama dan keduanya datang dari puak yang tidak berapa penting pada zaman pra-Islam di Makkah. Khalifah yang ketiga ialah lelaki dari puak yang berbeza. Uthman bin `Affan ialah dari keluarga Bani Umayyah, salah satu puak yang terkenal di Makkah dan dia juga sahabat yang paling tua antara mereka. Perlantikannya ialah satu kejayaan dan peluang untuk bangsawan Makkah, untuk mendapat faedah. Perhentian sementara bagi peperangan dengan sempadan-sempadan memberikan ahli-ahli kaum masa untuk membalas rasa terkilan mereka. Ketegangan dan tekanan dari segi persaingan meledak sebagai siri-siri kebinasaan pada peperangan sivil. Siri yang pertama bermula pada 656 (36 Hijrah) dengan pembunuhan Uthman dan digantikan dengan Ali, menantu dan sepupu Rasulullah. Buat kali pertama, pemerintah Islam dibunuh oleh orang Islam sendiri dan tentera-tentera Islam berperang sesama sendiri. Khalifah Ali juga dibunuh, maka berakhirlah pemerintahan oleh empat orang sahabat yang terpilih itu. Sistem khalifah yang baru muncul iaitu Bani Umayyah yang mempunyai prinsip monarki . Nyata sekali, mereka telah memindahkan sistem khalifah dari Arab ke Syria, kawasan jajahan baru dan amat dikenali dalam bidang politik dan pentadbiran empayar Timur Tengah yang lama. Dalam situasi yang kompleks dan kekalutan ini, satu kumpulan telah memperoleh kepentingan istimewa sebagai pengikut Ali bin Abi Talib. Sebagai suami kepada anak perempuan Rasulullah, Fatimah, dia tidak mempunyai kemuliaan seperti Rasulullah namun terlalu diagung-agungkan oleh para pengikutnya. Ali adalah seorang pahlawan yang gagah dan mempunyai peribadi diri yang mulia. Ini membolehkannya mendapat sokongan yang padu daripada sesetengah umat Islam. Mereka setia menyokongnya walaupun selepas dia digulingkan dan mereka pada mulanya dikenali sebagai Shi`at Ali, kemudiannya dipanggil sebagai Syi`ah. Bani Umayyah kekal memerintah selama lebih satu abad melaui beberapa siri kompromi dan susunan sementara yang mempertahankan kesatuan umat Islam, tetapi kos untuk mewujud dan mempertahankan dominasi bangsawan Arab terhadap bangsa bukan Arab, termasuk penganut Islam yang bukan berbangsa Arab, dan satu sistem kerajaan yang hebat dan pentadbiran yang tiba untuk meminjamkan lebih banyak struktur, kaedah-kaedah dan kakitangan yang telah ditempatkan oleh Islam. Terdapat banyak yang menentang proses tersebut. Penyokong-penyokong Ali yang dikenali sebagai Kharijis yang telah keluar , terasing daripada gerakan Umayyah dan menentang Umayyah semasa hidupnya terus menentang keturunannya. Mereka adalah golongan yang sangat ekstrim yang menolak sebarang kuasa yang bukan dari pilihan mereka dan membenci mendesak mereka menuruti mereka. Golongan Syi`ah telah memberikan kesetiaan kepada beberapa orang ahli keluarga Rasulullah.dan menuruti siri-siri pemimpin yang cuba mematahkan khalifah Ummayyah dan membina satu pentadbiran yang baru. Peperangan yang kedua bermula dengan kebangkitan awal yang memberi sedikit kesan kepada ketenteraan dan politik, juga kesan yang besar terhadap keagamaan yang sejarah. Pada tahun 680 (61 Hirah), Husin anak Ali (cucu Rasulullah) memimpin satu pemberontakan terhadap kuasa Ummayyah. Pada 10 Muharram di Karbala, Iraq, Husin bersama keluarga dan para pengikutnya bertemu dengan tentera-tentera Umayyah. Mereka ditentang dan dibunuh. Berdasarkan sejarah lama, sebanyak 70 orang menjadi mangsa pertempuran dan yang terselamat hanya seorang anak kecil yang sakit terlantar di khemah. Anak kepada Husin itu, Ali (Zain Al-Abbidin) telah menceritakan tentang pertempuran tersebut. Tragedi yang dramatik ini memberikan satu semangat baru kepada pergerakan Syi`ah bertemakan pengorbanan, kesilapan dan penebusan semula maruah mereka.Darah mangsa yang tumpah di Karbala menjadikan Syi`ah daripada sebuah parti kepada mazhab, daripada sebuah puak kepada agama. Prestasi pemerintahan dinasti Bani Umayyah menjadi semakin menurun selepas kejadian pertempuran dengan puak Syi`ah. Namun dinasti tersebut bangkit semula dengan perlantikan Khalifah Abdul Al-Malik yang telah mengembali dan mengukuhkan semula prinsip monarki. Namun akhirnya Bani Umayyah telah jatuh kepada Bani Abbasiyyah pada tahun 750 selepas perang sivil yang ketiga atau dikenali juga sebagai Revolusi Abbasiyyah. Bani Abbasiyyah ialah golongan dari keturunan Nabi Muhammad juga. Ini adalah revolusi terbesar yang telah membawa perubahan terhadap tampuk pemerintahan dan perpindahan pusat pentadbiran daripada Syria ke Iraq.Khalifahnya yang pertama ialah Abu Al-Abbas al-Saffah. Namun begitu, pusat pentadbiran telah dipindahkan ke Baghdad oleh khalifah yang kedua, Abu Ja`afar al-Mansur.Baghdad telah menjadi sebuah kota yang hebat yang didiami oleh penduduk Islam dari pelbagai bangsa tetapi masih menggunakan bahasa Arab sebagi medium utama dalam komunikasi dan Islam sebagai ikatan dan lambang identiti mereka. Perang sivil yang keempat berlaku selepas kematian Khalifah Harun Al-Rashid pada 809 (194 Hijrah), di antara anaknya Al-Amin dan Al-Ma`mum. Kerajaan ini berakhir pada 1258 selepas pemerintahan oleh 37 orang khalifah mengikut sistem warisan seperti Bani Umayyah juga. Kerajaan ini telah jatuh kepada tentera Mongol. Namun begitu sebuah kerajaan baru iaitu Mamluk telah wujud daripada cabang kerajaan Bani Abbasiyyah, yang memerintah semenjak 1261 M hingga 1517 M.

Kekuasaan Arab Mula Berkurang

Semasa di awal abad, sesetengah perubahan yang besar telah dapat dilihat. Salah satunya ialah perhentian dan penaklukan. Pada awal kurun ke-9 (kurun ke-3 Hijrah), gelombang besar dalam perkembangan bahasa Arab telah dilihat mencapai hadnya. Di sebelah timur bersempadan dengan India dan China, di sebelah barat bersempadan di laut Atlantik dan Sepanyol. Untuk beberapa ketika, ia mesti dilihat seperti kemajuan Islam dapat berterusan sehingga seluruh dunia berada di bawah kekuasaan Arab dan beriman dengan Islam. Penaklukan terakhir dan proses Islamisasi terhadap dunia mula malap dan diganti dengan zaman penyebaran kristian. Bani Abbasiyyah menerima pengakhiran peperangan penaklukan dan menyelesaikan sempadan yang kekal dan kewujudan bersama dengan negara-negara bukan Islam menaungi mereka. Tanggungjawab jihad yang dipimpin oleh negara-negara Islam dan penduduknya untuk kemajuan Islam kekal termaktub dalam perundangan dan tradisi Islam, tetapi perlu pertahanan yang lebih dan kurangkan peperangan. Perubahan lain ialah perpecahan kuasa khalifah dari segi ketenteraan dan politik. Semua jajahan yang dahulunya telah diperintah secara berpusat di bawah naungan seorang khalifah telah terpisah di bawah pemerintahan masing-masing. Khalifah kehilangan kuasa di bawah arahan komander tentera dan akhirnya menjadi sebuah institusi politik yang terasing, ketenteraan yang lebih terbuka di pusat dan sistem sultan. Walau bagaimanapun, teori kesatuan Islam bertahan dan digambarkan dengan kesatuan yang membangun dalam bahasa, budaya, institusi dan kesenian. Institusi khalifah melaksanakan penyatuan pengaruh malah semasa waktu kejatuhannya. Kadangkala dikatakan bahawa agama Islam telah ditekan oleh daya luaran dan dalaman. Ini adalah tidak benar sama sekali. Penyebaran agama Islam dan budaya Arab berkembang luas oleh proses yang selari antara penaklukan dan penjajahan. Apabila Nabi wafat pada 632(11 Hijra), agama Islam yang hanya dikenali di Tanah Arab; orang-orang Arab yang dipimpin dan bahasa Arab yang menjadi bahasa wahyu “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (Yusuf, 12: 2) masih terhad di semenanjung Arab dan sempadan padang pasir. Seabad selepas itu, orang Islam Arab telah mentadbir empayar yang luas dengan kawasan jajahan dan penduduk yang ramai. Emapayar ini ditadbir oleh pewaris Nabi Muhammad, Islam menjadi agama yang terkenal dan bahasa Arab dengan cepat menggantikan bahasa-bahasa lain. Prinsip keimanan Islam, dibawah kawalan negara-negara Islam dan melalui kekayaan bahasa Arab, budaya asal yang berkembang, mewujudkan lelaki dan wanita daripada pelbagai bangsa dan agama, tetapi menghasilkan kelainan dalam tradisi Arab dan cara menggambarkannya, dan nilai-nilai Islam dan kedudukannya. Keunggulan pidato oleh bangsawan dari golongan para penakluk adalah penggunaan bahasa yang praktikal dalam pentadbiran dan perniagaan. Kepelbagaian dan peluang-peluang tamadun yang hebat ; dan yang paling penting ialah sanjungan yang berdasarkan kepada gaya bahasa yang suci seperti wahyu quran diterangkan dan sentiasa terpelihara. Kesemuanya membantu dalam cara masing-masing untuk meneruskan proses asimilisasi kebudayaan Arab. Semasa abad tersebut, dominasi Arab terhadap khalifah telah hilang, dan Arab dipaksa untuk berkongsi dan kemudiannya melepaskan pegangan terhadap empayar yang telah mereka bina. Namun begitu, sungguhpun orang lain mengambil tempat mereka dari segi kuasa politik dan ketenteraan, bahasa mereka, keimanan dan perundangan mereka masih kekal sebagai monumen yang kekal sebagai pimpinan dan pencapaian mereka. Berakhirnya kuasa tertinggi politik Arab tidak membantutkan proses menanamkan budaya Arab, yang berterusan kepada kesan-kesan yang dikekalkan bahasa dan identiti mereka oleh kebanyakan kawasan empayar Arab. Kawasan-kawasan yang ditakluki pada abad ke-7 dan ke-8, hanya yang berada di benua Eropah iatu Seapnyol, Portugal dan Sicily tidak lagi menganuti Islam tetapi telah menukar agama kepada Kristian dan fahaman Latin tetapi jejak-jejak pemerintahan Islam masih wujud di sana. Orang Kristian dan Orang-orang Mongol Pada kurun ke-11 (ke-15 Hijrah), seluruh dunia mengalami krisis dalam negeri. Kelemahan ini terjadi disebabkan oleh siri-siri pencerobohan Turki dari timur, Caucasian dari utara, Badwi dan Barbar dari selatan dan Franks dari barat. Pada ketika itu, Kristian telah menakluki semula Sepanyol dan ketibaan orang-orang Kristian di Palestin telah dirasai oleh umat Islam. Kedatangan orang-orang Kristian ke Timur telah meninggalkan beberapa kesan yang kekal. Kesan yang paling penting ialah perkembangan perdagangan antara negara-negara Islam dan negara-negara barat, melintasi laut Mediterranean. Perdagangan tersebut sebenarnya telah wujud dalam skop yang kurang luas, sebelum kedatangan Perang Salib lagi. Ia berkembang pesat di pelabuhan Levant di bawah pemerintahan orang Kristian dan mereka mempertahankan kedudukan mereka kerana pemimpin Islam yang menjajah memperolehi banyak faedah di atas kedatangan mereka. Akibat lain yang disebabkan oleh kedatangan orang-orang Kristian ialah kemerosotan kekal dalam situasi kumpulan minoriti bukan Islam di bawah pemerintahan Islam. Apabila orang-orang Kristian telah mewujudkan siri-siri penempatan di Syria dan Palestin, penduduk asal yang menganut Kristian di kawasan itu berasa lega kerana dapat bekerjasama ataupun mendapat simpati daripada musuh-musuh Islam. Penganiyaan jarang berlaku, namun wujud kekerasan dan hubungan telah menjadi semakin buruk antara umat Islam dengan kumpulan yang tidak puas hati dan yang berpotensi untuk menjadi musuh luar yang sangat bahaya.

Selepas Mongol

Terdapat beberapa elemen yang berbeza dan tersendiri dalam bentuk yang baru ini. Satu daripadanya ialah politik yang universal dan pengusaan tentera di Turki. Setiap tempat dari Mesir ke India dan Asia Tengah, penguasa, tentera, pemerintah dan golongan penguasa ialah orang-orang Turki untuk berperang dan memerintah, biasanya untuk penyingkiran sesama mereka. Berhubung dengan perubahan tersebut, ialah kestabilan ketenteraan dan struktur institusi. Orang-orang Siberia telah mewujudkan bentuk baru, yang terpenting di kalangan mereka ialah sultan, politik dan kuasa ketenteraan terasing keduanya tetapi saling melengkapi dalam sistem khalifah, sekarang terhad dalam perkara utama, untuk keagamaan dan perundangan. Kedatangan Turki membawa kekuatan baru bagi dunia Islam, membolehkannya untuk bertahan dan akhirnya menangkis tentera-tentera Kristian dan melancarkan umat Islam yang maju di tengah-tengah Eropah. Turki, dalam pelbagai bidang, menggunakan bahasa Arab dan Parsi sebagai bahasa utama yang ketiga dalam penampilan dan yang pertama dalam kepentingan politik. Semasa zaman Mongol, terdapat empat pusat kuasa utama dalam dunia Islam. Salah satunya dikenali sebagai sultan, terdapat di Mesir dan termasuk kebanyakan kawasan Syria. Sultan Mamluk, bagaimanapun diperintah oleh Turki and Circassian, yang mempunyai populasi asal yang menggunakan bahasa Arab dalam peranan golongan bawahan, namun begitu mengekalkan kekuatan budaya Arab yg lama. Bahasa Parsi atau Turki tidak digunakan secara meluas. Bahasa Arab masih menjadi satu-satunya bahasa dalam pentadbiran, perdagangan, pendidikan dan penulisan. Dalam sejarah kebudayaan Arab, Mamluk Mesir digunakan oleh Turki, Mongol dan keturunan mereka di bahagian utara. Pusat kedua ialah Parsi, mula diperintah oleh 11-Khans, keturunan Mongol yang menakluki Timur Tengah, kemudian oleh beberapa dinasti Mongol dan Turki, yang terpenting di Tamerlane. Selepas kejatuhannya, pemerintahan anarki pula diwujudkan dan berakhir berikutan kemunculan dinasti baru pada kurun ke 15 dan 16 (ke-9 dan ke-10 Hijrah). Dinasti tersebut ialah Safavids, dengan ciri-ciri keagamaan yang kuat daripada hasil daripada pengaruh Shi`ah yang terdapat di Iran. Safavids ialah penakluk-penakluk Iran yang bertahan sehingga sekarang selepas mengalami beberapa perubahan. Jauh ke barat, orang-orang Turki di Anatolia, selepas perpecahan kesultanan Seljuq, ia berpecah kepada beberapa negeri-negeri kecil. Bahagian yang paling penting ialah Ottoman. Ottoman yang terletak di barat Anatolia perlahan-lahan berkembang dengan menakluk kedua belah kawasan sepanjang selat Dardanelles di Asia dan Eropah dan menyatukan semuanya dalam satu empayar yang luas. Negara Ottoman telah melalui beberapa peringkat. Ia bermula sebagai negara yang mempunyai kekuatan ketenteraan. Kemudian ia menjadi sebuah monarki Islam dan satu keturunan kepada Kesultanan Seljuq di Rum. Akhirnya pemimpin-pemimpinnya menjadikan negara tersebut sebagai monarki Islam yang universal, keturunan daripada khalifah-khalifah Islam dan maharaja Rum. Ketua Greek dan Anatolia memerlukan bandar baru untuk empayar mereka dan batu-batu untuk membina arca-arca mereka. Pada 29 Mei 1453, dua tahun selepas ketabalan sebagai ketua pemerintah, Sultan Muhammad 11 telah tiba di kota Konstantinopel. Dengan itu, dia telah menyatukan dua benua dan dua tradisi yang membentuk warisannya. Segmen terakhir disesuaikan tempatnya. Bagi Eropah, ini adalah tanda-tanda berakhirnya Zaman Pertengahan berdasarkan kepada pandangan secara tradisional. Dalam Islam, ini adalah satu permulaan kepada Zaman Kegemilangan Ottoman yang baru. Selama beberapa ketika, sultan Ottoman di Turki dan Safavid Shahs di Turki berselisih sesama mereka untuk menguasai Timur Tengah. Perebutan ini telah dimenangi oleh Kerajaan Ottoman tetapi tidak menggugat Iran dan mereka menumpukan perhatian terhadap kesultanan Mesir, kerana mereka berupaya untuk menggulingkannya dengan mudah, menggabungkan jajahannya, Mesir, Syria dan Arab Barat dalam jajahan Ottoman. Dari tahun 1517 M (924 Hijri) , hanya terdapat dua negara yang penting di Timur Tengah ialah Turki dan Iran, ini dikekalkan kedudukannya sehingga sekarang. Monarki Turki yang keempat terutama ialah yang berada di utara India. Selepas penaklukan oleh Mahmud dari Ghazna, negara Islam di India diperintah oleh sultan Turki yang dikenali sebagai Raja Hamba Delhi (Slave Kings of Delhi). Monarki mereka mengalami kejatuhan dan diganti dengan empayar yang lebih hebat dan berkuasa yang ditemui oleh Babur, keturunan Timur-i-Lang, yang menakluki India pada awal kurun ke-16 (ke-10 Hijrah) dan membangunkan sebuah empayar yang terkenal iaitu Mughul. Selain daripada empat monarki yang utama, negara-negara Islam yang lain juga tumbuh di bahagian utara, dan Afrika tropical, Asia Tengah dan kawasan yang luas telah dibuka untuk Islam dengan memasuki secara halus ke Asia Tenggara. Namun begitu, kekuatan empat empayar Muslim yang hebat itu mengelirukan dan menyembunyikan perubahan fundemental dalam hubungan antara Islam dan Kristian. Sejak dari akhir kurun ke-15, Eropah memulakan usaha untuk pergerakan yang hebat bagi penemuan dan penaklukan yang akhirnya membawa kepada seluruh dunia, dari utara ke selatan. Sementara negara-negara Islam di Crimea, lembah Don dan Volga dan pusat Asia dijajah di bawah kuasa Russia, Asia selatan dan Tenggara serta Timur Tengah telah berjaya dimasuki, dipengaruhi dan didominasikan oleh pendatang-pendatang dari Eropah Barat. Untuk kali kedua, kali pertama semenjak penaklukan Mongol, pusat Islam sekali lagi berada di bawah pentadbiran bukan Islam, kesan yang mengejutkan, tindakbalas dan reaksi orang-orang Islam terhadap cabaran, dan perpindahan secara perlahan-lahan oleh masyarakat Islam.yang dituruti, adalah tema yang paling menonjol dalam sejarah Islam di zaman moden. Islam di Andalusia Islam telah tiba ke Andalusia (Sepanyol) pada tahun 710 M apabila Tariq bin Malik, seorang pegawai Berber melintasi selat yang memisahkan antara Afrika dan Eropah. Tidak kurang daripada satu tahun selepas itu,seramai 7000 orang telah dipimpin oleh Thariq bin Ziyad mendarat di Gibraltar (Jabal Tariq atau gunung Tariq). Sebahagian besar semenanjung Iberian telah ditakluki oleh orang Islam pada tahun 718 M. Terdapat pertentangan dengan pemerintahan Kristian Visagoth dan rajanya, Roderick. Pada tahun 755, Abdurrahman dari Bani Umayyah, Damascus telah sampai ke Sepanyol selepas Bani Ummayyah digulingkan oleh Bani Abbasiyyah. Dia dikenali sebagai Abdurrahman Ad-Dakhil yang telah membina masjid Cordoba. Zaman khalifah tersebut telah bertahan sehingga tahun 912 M. Umat Islam pada zaman itu telah memerintah kawasan jajahan dengan penuh sikap toleransi walaupun terhadap penduduk Kristian dan Yahudi. Oleh sebab itu, ramai di kalangan mereka telah tertarik dengan Islam. Orang-orang Islam juga telah membangunkan Cordoba sebagai satu bandar yang tercanggih di Eropah dengan populasi mencecah 500000 penduduk. Terdapat 700 masjid, sebuah universiti dan 70 perpustakaan yang mengandungi 500000 manuskrip. Mereka menggaji kakitangan dari kalangan penyelidik, juruhias cetakan dan penjilid buku. Mereka telah mengembangkan ilmu sains, falsafah dan kesenian. Ramai yang telah datang dari seluruh pelosok Eropah untuk menimba pelbagai cabang ilmu di sana. Islam di Andalusia telah melahirkan beberapa tokoh yang terkenal seperti ahli falsafah Ibnu Rushd, pakar matematik, al-Zarqali dan al-Bitruji, ahli fizik, Ibnu Zuhr dan ramai lagi. Kebanyakan sumbangan ilmuan Islam dari segi sains, dibangunkan dalam bidang perubatan. Al-Zahrawi adalah salah seorang ahli sains yang menghasilkan penemuan tentang anatomi dan pembedahan. Kajiannya telah menjadi rujukan utama sekolah perubatan di Eropah pada pertengahan abad tersebut. Ibn al-Nafis telah menemui sistem peredaran darah manusia. Mereka juga telah membuat penambahan yang besar terhadap kajian tubuh badan manusia dari Greek. Hasil kerja Ibn Baitar tentang tumbuhan herba pula dijadikan rujukan di Sepanyol dan Afrika Utara. Cordoba menjadi bandar metropolitan dengan kilang-kilang dan bengkel-bengkel. Di sana juga telah wujud lampu jalan dan banyak bangunan dengan senibina unik seperti masjid. Pada abad ke-11, orang-orang Kristian mula bangkit dan merancang untuk menentang pemerintah dan orang-orang Islam. Mereka menyerang untuk mengambil semula Toledo dengan pimpinan Alfonso VI. Tempoh waktu tersebut dikenali sebagai Taklukan Semula (Reconquest) dan banyak kerajaan Kristian mula menunjukkan penentangan yang serius. Dua kota utama iaitu Cordova dan Seville jatuh pada tahun 1238 dan 1248. Kerajaan Granada telah mengurangkan kawasan jajahan Islam di Sepanyol. Lebih daripada dua setengah abad, kerajaan Islam bertahan dan makmur di Sepanyol. Akhirnya pada Januari 1492, Ferdinand atau Aragon dan Isabella dari Castile telah menakluk kerajaan Islam terakhir di Sepanyol iaitu Alhambra dan Boadbil, selepas mereka berkahwin dan menggabungkan kerajaan-kerajaan mereka.

Penemuan Tuhan

alloh-karim
Sosok dalam keremangan senja itu tercenung. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat bintang, lalu dia berkata, “Inilah Tuhanku“. Namun, tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.“ Kemudian, tatkala dia melihat bulan terbit, dia
berkata, “Inilah Tuhanku“.

Namun, setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang sesat.“ Kemudian, tatkala dia melihat matahari terbit, dia
berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar“, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.“ (QS Al-An“am: 76–78).

Demikianlah, proses pencarian sang Pencipta yang pernah dilakukan oleh Bapak Para Nabi, Ibrahim Khalilullah, dengan memahami fenomena alam disertai dengan kesadaran jernih, dimulai dari awal rangkaian sebab-sebab dan mencapai penemuan Tuhan Alam Semesta.

Begitu pula kita, tiap-tiap kita telah dianugerahi kemampuan untuk meneliti alam dengan pandangan komprehensif. Melalui indra, kita tidak lagi melihat alam sebagai sekadar kumpulan bagian-bagian yang saling
terisolasi, tetapi harus dapat memperhatikan kesalinghubungan di antarbagian itu dan kesamaan asal-usulnya.

Peredaran matahari dan bulan (QS Ar-Rahman: 5), turunnya hujan dan ragam buah-buahan (QS Al-Baqarah:22), tiupan angin untuk penyerbukan (QS Al- Hijr: 22), geografi dan kosmologi (QS Al-Ghasyiyah: 18–20), dan manfaat
besi (QS Al-Hadid: 25), adalah sebagian dari fenomena alam yang harus secara integral kita pahami. Kemudian sampailah pada kesimpulan dankeyakinan tentang keberadaan Tuhan, Sang Pencipta (QS Fussilat:53).

Selanjutnya, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa beliau diutus kepada seluruh manusia sejak zamannya hingga akhir zaman nanti, dengan membawa Alquran sebagai mukjizat, untuk melemahkan (li ikjazi) argumentasi orang-orang kafir. Telah terbukti bahwa Alquran itu adalah benar-benar kalam Allah, bukan buatan Muhammad SAW yang ummi, ataupun
buatan penyair-penyair Arab tersohor (QS Al-Baqarah:23).

Terakhir, dengan diutusnya Rasulullah SAW dan pemberitahuan Alquran, barulah kita mengetahui bahwa Tuhan (Ilah) itu adalah Allah, seperti dijelaskan dalam Surat Luqman ayat 25, “Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?“ Tentu mereka
akan menjawab, “Allah“. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah“, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.“ Wallahu a“lam.

Meraih Cinta Allah dan Manusia

Gambar

Dari Abul Abbas -Sahl bin Sa’d as-Sa’idi – radhiallahu ‘anhu berkata: “Seorang lelaki mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, tunjukilah aku suatu amalan, yang bila aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia cinta kepadaku?” Rasul saw. bersabda: “Zuhudlah
di dunia, niscaya Allah cinta kepadamu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka mencintaimu”. (H.R. Ibnu Majah, Shahihul Jami’, no. 935)

Cinta Allah dan manusia, dua bentuk cinta pangkal ketenangan dan ketentraman hati. Tangga untuk mencapainya, kata Rasulullah SAW, hanya satu: zuhud.

Sebagian kita bisa jadi alergi mendengar kata tersebut. Atau lebih mengesankannya sebagai utopia. Yang tergambar adalah bagaimana seseorang berpakaian lusuh, kusut, asyik tenggelam dalam aktivitas ibadah di masjid. Kesan-kesan ini makin diperkuat oleh arus pola hidup materialistik, menuhankan harta. Orientasi duniawi, tampaknya sudah berakar umbi dalam hati dan pikiran sebagian kita.

Sayap Nyamuk

Sementara, sikap dan pola hidup Rasulullah sepenuhnya mengacu pada sikap ini. Beliau menganggap, kehidupan dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah sebuah pohon, lalu bakal melanjutkan perjalanan kembali (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, Hakim)

Beliaupun melukiskan dunia ibarat tetesan air dari jari yang dicelupkan ke tengah lautan (H.R. Muslim, Turmudzi dan Ibnu Majah). Dalam kesempatan lain, beliau mengatakan dunia ibarat sayap nyamuk (H.R. Turmudzi)

Al-Qur’an surat al-Hadid ayat 20, mengungkapkan, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbanga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur…” (Lihat juga Q.S. Ali-Imran: 14-15, 185. Yunus: 24. Az-Zukhruf: 35. An-Najm : 29-30).

Zuhud, dalam tinjauan terminologis, merupakan lawan sikap senang dan ambisi pada dunia (Lisanul Arab, 3/196). Banyak pendapat para ulama salaf tentang pengertian zuhud. Diantaranya, menurut Sofyan Tsauri, zuhud di dunia artinya tidak panjang angan-angan. Tapi bukan dengan memakan makanan keras atau memakai pakaian kasar. (Madarijus Salikin, 284). Hasan al-Bashri mendefinisikan zuhud di dunia bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Tapi,bagaimana seseorang merasa lebih yakin pada apa yang dimiliki Allah dari apa yang ada di tangannya. (Madarijus Salikin 285)

Syaikh Ibnu Taimiyah menyebutkan zuhud adalah meninggalkan yang tak bermanfaat di akhirat. Bedanya dengan wara’, meninggalkan apa yang dikhawatirkan berbahaya di akhirat. Menurut Ibnul Qayyim, pendapat inilah yang paling baik dan tepat. (Madarijus Salikin, 283)

Senjata

Esensi zuhud berasal dari hati. Di dalam hati hendaknya hanya tertanam rasa cinta dan bersandar penuh kepada Allah SWT. “Ya Allah, jadikanlah dunia di tanganku dan jangan kau jadikan dunia di dalam hatiku”, do’a Abu Bakar r.a.

Karenanya, zuhud juga bukan berarti sikap apriori menolak dan menjauhi semua yang berbau dunia. Toh, Rasulullah saw. dan para sahabar, generasi zuhud, juga bekerja, berkeluarga, memiliki istri dan anak. Nabi Sulaiman a.s., bahkan disebut dalam Al-Qur’an memiliki kerajaan besar. Indah sekali perkataan Sofyan Tsauri: “Harta di zaman kami adalah senjata kaum beriman”. Atau ungkapan Abu Ishaq as-Sabi’i bahwa kaumnya dahulu memandang keluasan harta benda adalah penolong agama (Mukhtashar Minhajul Qashidin, 185).

Imam Ahmad membagi zuhud menjadi tiga. Pertama, meninggalkan yang haram, ini zuhudnya orang awam (zuhdul ‘awam). Menurut Ibnul Qayyim sikap ini merupakan fardhu ‘ain. Kedudukan, meninggalkan sikap berlebihan terhadap yang halal. Ini dinamakan zuhudnya orang-orang khusus (zuhdul khawas). Terakhir, meninggalkan semua yang menyibukkan diri dari Allah, disebut zuhudnya orang-orang ‘arif (zuhdul ‘arifin). Inilah yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas sebagai salah satu tangga mencapai kecintaan Allah (mahabatullah).

Agar Dicintai Manusia. Menarik cinta manusia, ada kaidahnya: tak boleh menggunakan unsur-unsur yang mengundang kemurkaan Allah swt. Bila kaidah itu dilanggar, yang terjadi justru sebaliknya. “… keadaannya akan diserahkan sepenuhnya kepada manusia oleh Allah ….” (H.R. Turmudzi, Shahihul Jami’, No. 5886).

Agar dicintai manusia, lagi-lagi jawabannya zuhud. Artinya, tidak memendam ambisi, kehendak, terhadap apa yang dimiliki orang lain.Ambisi, iri, ingin memiliki apa yang ada pada orang lain, adalah bibit sikap buruk sangka, benci, permusuhan dan seterusnya. Maka, sekali lagi, Rasulullah telah memberi jawaban singkat dan tepat: zuhud!
   

Makna Lailahailelloh

Gambar

Jika seseorang telah menyatakan dua kalimat syahadat (tidak ada Ilah kecuali Allah), berarti ia telah berikrar dan meyakini hal-hal berikut ini : 1. Tidak ada pencipta kecuali Allah

(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Rabb kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. 6:102) Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan. (QS. 40:62) 2. Tidak
ada yang memberi rizki kecuali Allah

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 11:6)

Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu.Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan dari bumi Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? (QS. 35:3) 3. Tidak ada yang memiliki kecuali Allah

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siap yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:284) 4. Tidak ada yang memberi
manfaat dan mudharat kecuali Allah

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya selain Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan
kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. (QS. 6:17)

Katakanlah:\\\”Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa\\\’at\\\”. Dan Allah
-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:76)

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 10:107) 5. Tidak ada yang mengatur alam
semesta kecuali Allah

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. 32:5) 6. Tidak ada pelindung kecuali Allah

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. 5:55)

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:257) 7. Tidak ada pembuat hukum kecuali Allah

Katakanlah:\\\”Sesungguhnya aku (berada) di atas hujjah yang nyata (al-Qur\\\’an) dari Rabbku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik. (QS. 6:57)

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Qur\\\’an) kepadamu dengan terperinci Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Qur\\\’an itu diturunkan dari Rabbmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali
termasuk orang yang ragu-ragu. (QS. 6:114)

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu
keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. 12:40) 8. Tidak ada yang memerintah dan melarang kecuali Allah

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas \\\’Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (QS. 7:54) 9. Tidak ada penentu undang-undang kecuali Allah

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari\\\’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan.Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (QS. 42:21) 10.Tidak ada yang ditaati kecuali Allah

Dan ta\\\’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. 3:132)

Katakanlah:\\\”Ta\\\’atilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir\\\”. (QS. 3:32) 11. Tidak ada
yang berhak disembah kecuali Allah

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. 20:14)

15 Petunjuk Menguatkan Iman

iman
Tak seorangpun bisa menjamin dirinya akan tetap terus berada dalam
keimanan sehingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Untuk itu
kita perlu merawat bahkan senantiasa berusaha menguatkan keimanan
kita. Tulisan ini insya’allah membantu kita dalam usaha mulia itu.

Tsabat (kekuatan keteguhan iman) adalah tuntutan asasi setiap muslim.
Karena itu tema ini penting dibahas. Ada beberapa alasan mengapa tema
ini begitu sangat perlu mendapat perhatian serius.

Pertama, pada zaman ini kaum muslimin hidup di tengah berbagai macam
fitnah, syahwat dan syubhat dan hal-hal itu sangat berpotensi
menggerogoti iman. Maka kekuatan iman merupakan kebutuhan muthlak,
bahkan lebih dibutuhkan dibanding pada masa generasi sahabat, karena
kerusakan manusia di segala bidang telah menjadi fenomena umum.

Kedua, banyak terjadi pemurtadan dan konversi (perpindahan) agama.
Jika pada awal kemerdekaan jumlah umat Islam di Indonesia mencapai 90
% maka saat ini jumlah itu telah berkurang hampir 5%. Ini tentu
menimbulkan kekhawatiran mendalam. Untuk menga-tasinya diperlukan
jalan keluar, sehingga setiap muslim tetap memiliki kekuatan iman.

Ketiga, pembahasan masalah tsabat berkait erat dengan masalah hati.
Padahal Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Dinamakan hati
karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang
ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad,
Shahihul Jami’ no. 2361)

Maka, mengukuhkan hati yang senantiasa berbolak-balik itu dibutuhkan
usaha keras, agar hati tetap teguh dalam keimanan. Dan sungguh Allah
Maha Rahman dan Rahim kepada hambaNya. Melalui Al Qur’an dan
Sunnah RasulNya Ia memberikan petunjuk bagaimana cara mencapai
tsabat. Berikut ini penjelasan 15 petunjuk berdasarkan Al Qur’an dan
Sunnah untuk memelihara kekuatan dan keteguhan iman kita.

1. Akrab dengan Al Qur’an

Al Qur’an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al Qur’an adalah
tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa
akrab dan berpegang-teguh dengan Al Qur’an niscaya Allah
memeliharanya; siapa mengikuti Al Qur’an, niscaya Allah
menyela-matkannya; dan siapa yang mendakwahkan Al Qur’an, niscaya
Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Dalam hal ini Allah berfirman:
“Orang-orang kafir berkata, mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan
kepa-danya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu
dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).”
(Al Furqan: 32-33)

Beberapa alasan mengapa Al Qur’an dijadikan sebagai sumber utama
mencapai tsabat adalah:

Pertama, Al Qur’an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa
seseorang, karena melalui Al Qur’an, hubungan kepada Allah menjadi
sangat dekat.

Kedua, ayat-ayat Al Qur’an diturunkan sebagai penentram hati, menjadi
penyejuk dan penyelamat hati orang beriman sekaligus benteng dari
hempasan berbagai badai fitnah.

Ketiga, Al Qur’an menunjukkan konsepsi serta nilai-nilai yang dijamin
kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al Qur’an
sebagai ukuran kebenaran.

Keempat, Al Qur’an menjawab berbagai tuduhan orang-orang kafir,
munafik dan musuh Islam lainnya. Seperti ketika orang-orang musyrik
berkata, Muhammad ditinggalkan Rabbnya, maka turunlah ayat: “Rabbmu
tidaklah meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu.” (Adl Dluha:
3) (Syarh Nawawi,12/156). Orang yang akrab dengan Al Qur’an akan
menyandarkan semua perihalnya kepada Al Qur’an dan tidak kepada
perkataan manusia. Maka, betapa agung sekiranya penuntut ilmu dalam
segala disiplinnya- menjadikan Al Qur’an berikut tafsirnya sebagai obyek
utama kegiatannya menuntut ilmu.

2.Iltizam (komitmen) terhadap syari’at Allah

Allah berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat.
Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa
saja yang Ia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

Di ayat lain Allah menjelaskan jalan mencapai tsabat yang dimaksud. “Dan
sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada
mereka, tentulah hal demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih
meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran).” (An Nisa’: 66)

Karena itu, menjelaskan surat Ibrahim di atas Qatadah berkata:-“Adapun
dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang beriman
dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan
kehidupan akherat adalah alam kubur.” (Ibnu Katsir: IV/421)

Maka jelas sekali, sangat mustahil orang-orang yang malas berbuat
kebaikan dan amal shaleh diharapkan memiliki keteguhan iman. Karena itu,
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melakukan amal shaleh secara
kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit, demikian pula halnya dengan para
sahabat. Komitmen untuk senan-tiasa menjalankan syariat Islam akan
membentuk kepribadian yang tangguh, dan iman pun menjadi teguh.

3. Mempelajari Kisah Para Nabi

Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Apatah lagi sejarah para Nabi.
Ia bahkan bisa menguatkan iman seseorang. Secara khusus Allah
me-nyinggung masalah ini dalam firman-Nya: “Dan Kami ceritakan
kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu
dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran , pengajaran dan
peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim Alaihis Salam yang
diberitakan dalam Al Qur’an: “Mereka berkata, bakarlah dia dan bantulah
tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami
berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi
Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami
jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (Al Anbiya’: 68-70)

Bukankah hati kita akan bergetar saat merenungi kronologi pembakaran
nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah? Dan bukankah dengan
demikian akan membuahkan keteguh-an iman kita? Lalu, kisah nabi Musa
Alaihis Salam yang tegar menghadapi kezhaliman Fir’aun demi menegakkan
agama Allah. Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita
dibanding dengan nabi Musa? Tak sedikit umat Islam sudah merasa tak
punya jalan karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan misalnya,
sehingga mau saja saat diajak kolusi dan berbagai praktek syubhat lain oleh
koleganya. Lalu mereka mencari-cari alasan mengabsahkan tindakannya
yang keliru. Dan bukankah karena takut gertakan penguasa yang tiranik
lalu banyak di antara umat Islam (termasuk ulamanya) yang menjadi tuli,
buta dan bisu sehingga tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar?
Bahkan sebalik-nya malah bergabung dan bersekongkol serta melegitimasi
status quo (mengang-gap yang ada sudah baik dan tak perlu diubah).
Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan
perjuangan menegakkan dan meneguh-kan iman itu kita menjadi malu
kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak
hal dari perilaku kita yang menjauhinya. Mudah-mudahan Allah menunjuki
kita ke jalan yang diridhaiNya.

4. Berdo’a

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka
memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman, seperti do’a yang
tertulis dalam firmanNya: ” Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami
condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.”
(Ali Imran: 8)
“Ya Rabb kami, berilah kesabaran atas diri kami dan teguhkanlah pendirian
kami serta tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 250)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya seluruh hati Bani Adam terdapat di antara dua jari dari
jemari Ar Rahman (Allah), bagaikan satu hati yang dapat Dia palingkan ke
mana saja Dia kehendaki.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Agar hati tetap teguh maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam banyak
memanjatkan do’a berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir
dalam shalat.
“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada
din-Mu.” (HR. Turmudzi)
Banyak lagi do’a-do’a lain tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar
kita mendapat keteguhan iman. Mudah-mudahan kita senantiasa tergerak
hati untuk berdo’a utamanya agar iman kita diteguhkan saat menghadapi
berbagai ujian kehidupan.

5. Dzikir kepada Allah

Dzikir kepada Allah merupakan amalan yang paling ampuh untuk mencapai
tsabat. Karena pentingnya amalan dzikir maka Allah memadukan antara
dzikir dan jihad, sebagaimana tersebut dalam firmanNya:
“Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh)
maka berteguh-hatilah kamu dan dzikirlah kepada Allah
sebanyak-banyaknya.” (Al Anfal: 45)
Dalam ayat tersebut, Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang amat
baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Ingatlah Yusuf Alaihis Salam!
Dengan apa ia memohon bantuan untuk mencapai tsabat ketika
menghadapi fitnah rayuan seorang wanita cantik dan berkedudukan
tinggi? Bukankah dia berlindung dengan kalimat ma’adzallah (aku
berlindung kepada Allah), lantas gejolak syahwatnya reda? Demikianlah
pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada
orang-orang yang beriman. (Bersambung…)

6. Menempuh Jalan Lurus

Allah berfirman: Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu
yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain)
sehingga menceraiberaikan kamu dari jalanNya.” (Al An’am: 153)

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mensinyalir bahwa umatnya
bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka
kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan)

Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti
berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam
cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Lalu,
jalan manakah yang selamat dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah
yang mesti kita ikuti dalam praktek keberaga-maan kita? Berdasarkan
banyak keterangan ayat dan hadits , jalan yang benar dan selamat itu
adalah jalan Allah dan RasulNya. Sedangkan pemahaman agama yang
autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasul
Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya. (HR. Turmudzi,
hasan). Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama
berdasarkan akal manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya
maje-muk dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh
para tabi’in dan para imam shalihin. Paham keagamaan inilah yang dalam
termino-logi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman
para salafus shalih.

Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar
dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah
yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada
di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa bingung dan
ragu. Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid’ah, dari
filsafat ke ilmu kalam, dari mu’tazilah ke ahli tahrif, dari ahli ta’wil ke
murji’ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di
sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang
benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.

7. Menjalani Tarbiyah

Tarbiyah (pendidikan) yang semestinya dilalui oleh setiap muslim cukup
banyak. Paling tidak ada empat macam.

Tarbiyah Imaniyah, yaitu pendidikan untuk menghidupkan hati agar memiliki
rasa khauf (takut), raja’ (pengharapan) dan mahabbah (kecin-taan)
kepada Allah serta untuk menghi-langkan kekeringan hati yang
disebab-kan oleh jauhnya dari Al Qur’an dan Sunnah.

Tarbiyah Ilmiyah, yaitu pendidikan keilmuan berdasarkan dalil yang benar
dan menghindari taqlid buta yang tercela.

Tarbiyah Wa’iyah, yaitu pendidi-kan untuk mempelajari siasat orang-orang
jahat, langkah dan strategi musuh Islam serta fakta dari berbagai peristiwa
yang terjadi berdasarkan ilmu dan pemahaman yang benar.

Tarbiyah Mutadarrijah, yaitu pendidikan bertahap, yang membimbing
seorang muslim setingkat demi setingkat menuju kesempurnaannya,
dengan program dan perencanaan yang matang. Bukan tarbiyah yang
dilakukan dengan terburu-buru dan asal jalan.

Itulah beberapa tarbiyah yang diberikan Rasul kepada para sahabatnya.
Berbagai tarbiyah itu menjadikan para sahabat memiliki iman baja, bahkan
membentuk mereka menjadi generasi terbaik sepanjang masa.

8. Meyakini Jalan yang Ditempuh

Tak dipungkiri bahwa seorang muslim yang bertambah keyakinannya
terhadap jalan yang ditempuh yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah maka
ber-tambah pula tsabat (keteguhan iman) nya. Adapun di antara usaha
yang dapat kita lakukan untuk mencapai keyakinan kokoh terhadap jalan
hidup yang kita tempuh adalah:
Pertama, kita harus yakin bahwa jalan lurus yang kita tempuh itu adalah
jalan para nabi, shiddiqien, ulama, syuhada dan orang-orang shalih.
Kedua, kita harus merasa sebagai orang-orang terpilih karena kebenaran
yang kita pegang, sebagai-mana firman Allah: “Segala puji bagi Allah dan
kesejahteraan atas hamba-hambaNya yang Ia pilih.” (QS. 27: 59)
Bagaimana perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda
mati, binatang, orang kafir, penyeru bid’ah, orang fasik, orang Islam yang
tidak mau berdakwah atau da’i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada
dalam keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang
sesungguhnya.

Berfikir dan Berbuat Sekarang! Bicara Besok.